Karena asteroid kecil tidak memiliki gravitasi yang cukup untuk menghasilkan tekanan sebesar itu, objek induk batuan ini dipastikan berupa benda langit yang sangat besar.

Kristal di dalam NWA 12774 masih mempertahankan bentuk serta pola kimia yang tajam.

Pola ini mengindikasikan kristalisasi terjadi di area dekat permukaan, bukan di dalam inti panas planet purba.

Agar dapat memicu tekanan ekstrem di dekat permukaan, dunia asal meteorit harus berukuran masif.

Simulasi komputer memperkirakan protoplanet itu memiliki radius lebih dari 1.800 kilometer, setara dengan ukuran Bulan dan mendekati dimensi Mars muda.

"Sungguh luar biasa membayangkan pernah ada dunia sebesar ini. Kita hanya tahu keberadaannya karena beberapa fragmennya secara kebetulan mendarat di Bumi," ujar Bell.

Misteri Kehancuran Dunia Kuno

Meskipun ukurannya berhasil diestimasi, akhir riwayat protoplanet purba ini masih menjadi tanda tanya.

Ilmuwan menduga dunia kuno tersebut hancur akibat tabrakan kosmik mahadahsyat yang lazim terjadi pada awal pembentukan tata surya.

Puing-puing hasil benturan kemudian terlontar ke ruang angkasa, tersebar, dan sebagian menyatu menjadi material pembentuk planet lain termasuk Bumi.

Studi yang dirilis dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters ini mengindikasikan tata surya purba dihuni lebih banyak benda langit daripada yang diketahui saat ini.

>>> AMD Tantang Nvidia: Superchip AI RTX Spark Dinilai Terlambat

"Ada banyak meteorit yang tersimpan di laci yang belum dipelajari secara menyeluruh, sehingga sangat mungkin masih ada protoplanet lain yang belum kita ketahui," kata Bell.