Kendati demikian, penyesuaian harga jual ke konsumen diprediksi tidak dapat dihindari lagi pada bulan depan apabila nilai tukar dolar AS tidak kunjung turun.

"Ini yang saya takut tadi bulan 7 itu. Kalau dolar-nya masih tinggi, sedangkan jatuh tempo pembayaran, nah itu yang kita khawatir.

Nah, harusnya kalau bisa cepetan diturunkan," ujar Budihardjo.

Kenaikan harga diproyeksikan bakal menyasar produk-produk gaya hidup seperti pakaian, sepatu, dan tas.

Sektor ini dinilai paling sensitif terhadap perubahan beban ekonomi saat jatuh tempo pembayaran barang baru tiba.

"Pelemahan rupiah pasti (penyebab kenaikan harga barang). Pada saat jatuh tempo pembayaran, stoknya sudah habis, kita mesti bayar yang baru.

Itu kan ada hitungan ekonomi," beber Budihardjo.

Guna meredam dampak tersebut, peritel mulai beralih menggunakan produk lokal dan memilih bersikap wait and see.

Pelaku usaha kini mengharapkan langkah cepat pemerintah dalam menyalurkan berbagai stimulus ekonomi demi menjaga daya beli masyarakat.

"(Kenaikan harga barang) Ini masih bisa kita tahan sampai bulan 7. Kebijakan pemerintah kita tunggu, stimulus-stimulus kita tunggu.

>>> Barcelona Resmi Rekrut Anthony Gordon dari Newcastle United

Turunkan stimulus, secepatnya ke bawah, sehingga bisa bergerak ekonomi lagi, (seperti) bantuan langsung tunai, diskon pajak, diskon pesawat, pajak-pajak dikurangin," terang Budihardjo.