Indeks Dolar AS Tembus 100, Rupiah Tertekan
Nilai tukar rupiah kembali tertekan setelah indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menembus level psikologis 100 pada awal pekan ini.
Berdasarkan data Investasi, DXY tercatat berada di level 100,01 pada pukul 17.52 WIB, Senin (8/6/2026).
>>> Universal Music Group Jajaki Penerbitan Obligasi Rp20 Triliun
Kombinasi faktor ekonomi domestik AS dan sentimen risk-off di pasar global menjadi pendorong utama penguatan indeks dolar tersebut.
Data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang tetap kokoh, dengan penambahan lapangan kerja baru melampaui ekspektasi pasar secara signifikan.
Hal ini memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan.
"Data tenaga kerja yang masih solid membuat pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama," ujar Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.
Selain itu, aliran dana global beralih ke aset safe haven termasuk dolar AS seiring meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Prospek pergerakan DXY diperkirakan berada pada rentang 98 hingga 104 sepanjang semester II-2026 dengan kecenderungan mempertahankan posisi yang relatif kuat.
>>> Ukraina Klaim Rebut Kembali 600 Km² Wilayah dari Rusia Sepanjang 2026
Hal ini terutama jika inflasi AS belum terkendali penuh dan aktivitas ekonomi mereka tetap tangguh.
Kendati demikian, dinamika pergerakan indeks dolar pada paruh kedua tahun ini masih akan bergantung pada kebijakan suku bunga Federal Reserve, perkembangan ekonomi negara maju, serta situasi geopolitik global.
Dampak penguatan dolar AS diproyeksikan membuat rupiah fluktuatif dalam jangka pendek pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Proyeksi hingga akhir tahun 2026 berada di rentang Rp 17.700 hingga Rp 18.300 per dolar AS.
Faktor domestik seperti neraca perdagangan, arus modal asing, serta kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia juga menjadi fokus pelaku pasar.
>>> Universal Music Group Jajaki Penerbitan Obligasi Rp20 Triliun
"Selama faktor eksternal masih mendominasi, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam tekanan yang terbatas," kata Muhammad Amru Syifa.
Update Terbaru
Assassin's Creed Black Flag Resynced Laku 3,5 Juta Unit dalam 2 Pekan, Lampaui Target Tahunan Ubisoft
Jumat / 24-07-2026, 03:53 WIB
George R.R. Martin Kembali Menulis, Novella Keempat Dunk and Egg dalam Pengerjaan
Jumat / 24-07-2026, 03:53 WIB
Gavin Williams Catat Immaculate Inning Lawan Minnesota Twins
Jumat / 24-07-2026, 03:53 WIB
Trump Ajak 23 Gubernur Republikan Teken Janji Lindungi Konsumen dari Lonjakan Biaya Listrik Data Center
Jumat / 24-07-2026, 03:50 WIB
Ahli Darurat Rekomendasikan Perlengkapan Penting untuk Musim Badai
Jumat / 24-07-2026, 03:50 WIB
Jose Ramirez Kembali, Twins Kalahkan Guardians 10-6
Jumat / 24-07-2026, 03:49 WIB
Mantan Guard NBA Ty Lawson Ditangkap karena Mencuri di Colorado
Jumat / 24-07-2026, 03:49 WIB
FF Beta OB55: Jadwal Buka, Cara Daftar, dan Keuntungan Bergabung
Jumat / 24-07-2026, 03:49 WIB
Power Strip Split-Design Anker Atasi Kekacauan Kabel di Meja
Jumat / 24-07-2026, 03:49 WIB
Detektif Swasta Diusir dari Sidang Kasus Pembunuhan D4vd
Jumat / 24-07-2026, 03:49 WIB
Albemarle County Luncurkan Program Bantuan Perumahan untuk Pegawai Pemerintah
Jumat / 24-07-2026, 03:48 WIB
Ibu Anak Maduka Okoye Siap Gugat Atas Dugaan DM Palsu
Jumat / 24-07-2026, 03:48 WIB
Jason Alexander Donasi Rp15 Ribu ke Yayasan Favorit Courtney Stodden
Jumat / 24-07-2026, 03:48 WIB
Penumpang Bantah Petugas ICE dalam Bahaya Saat Penembakan di Texas
Jumat / 24-07-2026, 03:45 WIB







