Bank sekadar menjalankan diversifikasi portofolio demi menjaga keseimbangan aspek imbal hasil dan risiko. Ke depan, kebijakan perbankan akan terus menyesuaikan dinamika pasar serta risiko makroekonomi global.

Jika tekanan sektor riil belum mereda, industri perbankan bakal terus memburu instrumen investasi yang aman demi menopang profitabilitas.

Namun, kredit tetap menjadi jangkar bisnis utama karena menawarkan margin yang menarik.

Saat kondisi sektor riil pulih, bank diproyeksikan kembali memacu ekspansi pembiayaan secara agresif. Perbankan juga akan mengoptimalkan bisnis treasury, cash management, hingga trade finance guna mendongkrak pendapatan nonkredit.

Strategi Pengelolaan Likuiditas BCA, KB Bank, dan CIMB Niaga

Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan penempatan dana pada surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas.

Langkah ini sekaligus bentuk dukungan bagi perekonomian nasional.

>>> Pintu Luncurkan BTC Price Game, Simulator Edukatif Analisis Harga Bitcoin

Hingga April 2026, penyaluran kredit BCA secara bank only tumbuh 4,54% menjadi Rp 965,01 triliun.

Pada saat bersamaan, dana BCA di instrumen surat berharga melesat 17,55% secara tahunan hingga mencapai Rp 425,41 triliun.

Alokasi terbesar ditempatkan pada obligasi pemerintah, disusul Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta surat berharga lainnya.

"BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat," ujar Hera.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyatakan investasi pada SBN krusial untuk mengawal stabilitas portofolio di tengah gejolak pasar finansial global.

SBN menawarkan tingkat keuntungan kompetitif dengan profil risiko yang terukur.

Walau begitu, penempatan dana KB Bank pada SBN per April 2026 melorot 1,19% secara tahunan menjadi Rp 20,07 triliun.