Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan tekanan signifikan pada industri kemasan nasional.

Pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku impor seperti plastik dan logam aluminium menjadi yang paling terdampak.

>>> Gavi Tuai Kritik Usai Tekel Keras ke Rodri di Latihan Timnas Spanyol

Pada Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,84 persen ke level Rp 18.188 per dolar AS.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di sektor industri kemasan.

Dampak Bergantung pada Logistik dan Pasar

Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa menyatakan bahwa dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada pengelolaan stok, logistik, dan elastisitas harga.

"Tapi itu semuanya tergantung kepada stok, logistik dan elastisitas harga berkaitan dengan supply and demand," jelas Henky.

Ia mencontohkan pasokan plastik jenis polypropylene dan polyethylene. Sekitar setengah kebutuhan nasional dipasok oleh Chandra Asri.

>>> Direktur Ritel KB Bank Robby Mondong Mengundurkan Diri

Saat produsen tersebut menyatakan force majeure akibat konflik Timur Tengah, pasokan dari China tetap melimpah.

Akibatnya, terjadi penumpukan stok di pasar dan pemotongan harga jual sekitar 5 hingga 10 persen setiap tiga sampai empat hari.

Henky menambahkan, meskipun permintaan pasar FMCG dan ritel melemah, kebutuhan dasar tetap ada dan membutuhkan kemasan.

Strategi Bertahan dan Optimisme UMKM

Untuk menyiasati tekanan ekonomi, pelaku industri disarankan memperkecil margin keuntungan guna menutup biaya operasional dan menghindari kerugian.

Sejauh ini, IPF mencatat belum ada perusahaan kemasan yang melakukan PHK atau menghentikan operasional. Namun, agenda investasi baru dipastikan tertunda.

>>> Populasi Prancis Diproyeksikan Capai Puncak Lebih Cepat pada 2037

"Antusiasme masih sangat besar, khususnya dari kalangan generasi muda dan yang bergerak di industri kecil UMKM," tandas Henky.