Mal ini mengusung julukan urban park mall karena memadukan taman kota dengan pusat perbelanjaan, menyediakan ruang hijau luas, jalur pejalan kaki, taman bertingkat, dan area duduk.

Menurut data dari E-architect, arsitektur gedung ini unik karena mayoritas toko ritel ditempatkan di area bawah tanah.

Bagian tengah bangunan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau yang bebas diakses publik.

Langkah ekspansi terbaru dilakukan oleh Swire Properties, pengembang asal Hong Kong.

Mereka menggelontorkan investasi US$ 3,4 miliar atau setara Rp 61,2 triliun untuk membangun Taikoo Place di Beijing, sebuah kompleks mal hijau terintegrasi dengan perkantoran, hotel, dan area terbuka yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Pergeseran ke konsep terbuka ini dipicu oleh perubahan perilaku konsumen di China yang kini lebih memprioritaskan pengalaman unik saat berkunjung.

"Konsumen di China semakin canggih dan mengharapkan hal-hal baru.

Mereka dimanjakan dengan pengalaman unik dan terus mencari sesuatu yang 'wow' atau viral," ujar kepala penyewaan ritel di CBRE China, Zino Helmlinger.

Menurut Helmlinger, orientasi pengembang kini bukan lagi sekadar mengejar volume transaksi di dalam toko, melainkan menyajikan pengalaman baru yang mampu mengundang traksi massa.

"Mal di China sudah jauh lebih berorientasi pada pengalaman dan tidak lagi berfokus pada transaksi. Tujuannya bukan hanya menjual barang, tapi membangun loyalitas lewat pengalaman yang berkesan," tuturnya.

Macdonald menambahkan bahwa kota-kota metropolitan seperti Shanghai, Guangzhou, Chongqing, dan Chengdu tengah bersaing mendirikan pusat perbelanjaan berbasis lingkungan hijau, baik indoor maupun outdoor.

"Konsep mal bergaya taman mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam desain perkotaan.

>>> Pemerintah Belum Putuskan Kebijakan Bea Keluar Batubara

Di kota-kota terkemuka, pengembang semakin memprioritaskan kemudahan berjalan kaki, keberlanjutan, dan ruang publik berkualitas tinggi," imbuh Macdonald.