Sejumlah proyek ekspansi kilang minyak di China yang dijadwalkan beroperasi tahun ini mengalami penundaan akibat terganggunya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, dipicu oleh konflik Iran.

Penundaan fasilitas dengan total kapasitas 500.000 barel per hari (bph) ini berisiko menekan laju pertumbuhan konsumsi energi di China dan menahan kenaikan permintaan minyak mentah global.

>>> Kemenkeu Tarik Utang Baru Rp386 Triliun hingga Mei 2026

Hambatan operasional terjadi saat sektor pengolahan minyak di negara importir minyak terbesar dunia itu sedang mengalami tekanan hebat, termasuk penurunan konsumsi bahan bakar domestik.

Proyek Terdampak Langsung

Salah satu infrastruktur yang terkena dampak adalah kilang milik Huajin Aramco Petrochemical Co (HAPCO), perusahaan patungan antara Saudi Aramco, Norinco Group, dan Panjin Xincheng Industrial Group.

Fasilitas pengolahan berkapasitas 300.000 bph di Kota Panjin mundur dari target operasional Mei atau Juni menjadi September atau awal Oktober 2026, akibat ketidakpastian pasokan bahan baku dari Selat Hormuz.

Proyek HAPCO juga mencakup pabrik perengkahan etilena berkapasitas 1,65 juta ton per tahun dan fasilitas produksi paraxylene 2 juta ton per tahun.

Rencana mengaktifkan kembali unit penyulingan minyak mentah berkapasitas 200.000 bph di kilang Dalian milik PetroChina juga ditangguhkan tanpa tenggat waktu pasti.

PetroChina awalnya bernilai menghidupkan fasilitas Dalian pada pertengahan tahun untuk memanfaatkan margin pengolahan minyak mentah Rusia yang murah, namun diskon harga minyak Rusia kini lenyap akibat ketatnya persaingan pasokan global.

>>> Sekolah Maung Jawa Barat Umumkan Hasil Seleksi Peserta Didik Baru

Margin Sektor Pengilangan China Tertekan

Konflik Iran mengikis profitabilitas bisnis pengolahan minyak di China karena lonjakan harga minyak mentah internasional, sementara perusahaan kilang terikat kebijakan batas atas harga BBM pemerintah.