Baterai menjadi komponen vital pada kendaraan hybrid dan listrik murni (EV). Performa berkendara sangat bergantung pada kondisi baterai, sehingga pemilik perlu waspada terhadap tanda-tanda penurunan fungsi.

Menurut Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, gejala kerusakan baterai pada mobil hybrid berbeda dengan EV.

>>> Navee Luncurkan Empat Skuter Listrik Baru di Indonesia, Mulai Rp7,4 Juta

Pada hybrid, indikator awal yang paling mudah dikenali adalah konsumsi bahan bakar yang tiba-tiba membengkak.

"Kalau untuk mobil hybrid, itu biasanya konsumsi bahan bakarnya boros, terus remnya agak keras sedikit, sama AC-nya kadang dingin kadang tidak," ujar Yogig.

Perubahan pada sistem pengereman dan suhu kabin yang tidak stabil merupakan efek domino dari pasokan daya listrik yang tidak optimal.

Pemilik disarankan segera melakukan pengecekan menyeluruh jika gejala tersebut muncul.

Turtle Mode pada Kendaraan Listrik Murni

Pada EV murni, masalah baterai langsung berdampak pada pembatasan kecepatan secara otomatis. Sistem komputer kendaraan mengaktifkan mode pengaman yang disebut turtle mode.

>>> Lepas Gandeng Jakarta Fashion Week 2027 Perkuat Identitas Gaya Hidup

"Kalau untuk EV biasanya jadi ini, kura-kura mode.

Jadi modenya, mobilnya itu pelan, maksimal kecepatannya biasanya 30 km per jam (kpj) atau 40 kpj," jelas Yogig.

Ketika fitur keselamatan ini aktif, akselerasi responsif khas EV akan dinonaktifkan. Laju kendaraan tertahan pada batas rendah meskipun pedal gas diinjak penuh.

"Walaupun di gas mentok tidak akan pengaruh. Pasti dia kecepatannya di segitu gitu aja.

Jadi lelet banget, karena itu kan udah safety mode," tambahnya.

>>> Massa Rusak Mobil Fortuner di Tanah Abang Akibat Perselisihan Klakson

Pemeriksaan rutin di bengkel spesialis menjadi kunci mencegah kerusakan lebih parah pada kedua jenis kendaraan. Deteksi dini gejala baterai bermasalah dapat menghindari biaya perbaikan yang lebih besar.