Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat realisasi penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.755 triliun pada April 2026.

Angka ini tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih cepat dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 9,49 persen.

>>> Teh Kamomil Terbukti Redakan Stres dan Insomnia, Ini Penjelasan Ahli

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, akselerasi ini didorong oleh kredit investasi yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,48 persen.

Sementara itu, kredit konsumsi naik 6,13 persen dan kredit modal kerja tumbuh 6,04 persen.

Berdasarkan profil debitur, kelompok korporasi menempati posisi tertinggi dengan lonjakan 15,51 persen.

Namun, segmen Usaha Kecil, Menengah, dan Mikro (UMKM) justru melambat signifikan dengan pertumbuhan hanya 0,16 persen.

Kredit Bank BUMN Tumbuh Tertinggi

Ditinjau dari struktur kepemilikan bank, kredit bank BUMN tumbuh paling tinggi yaitu 14,35 persen yoy. Hal ini disampaikan Dian dalam rilis hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK.

Produk buy now pay later (BNPL) perbankan juga mencatatkan porsi kepemilikan 0,34 persen.

>>> Mangaka Ritsuhiro Mikami Meninggal Dunia karena Sakit

Baki debet produk ini melonjak 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun, dengan jumlah nasabah mencapai 31,76 juta rekening.

Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru melambat menjadi 11,39 persen yoy dengan total nilai nominal Rp10.077 triliun.

Pada Maret 2026, DPK mampu tumbuh hingga 13,55 persen.

Likuiditas industri perbankan nasional dinilai masih terjaga kokoh.

Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit tercatat 111,13 persen, sedangkan Alat Likuid terhadap DPK berada di posisi 25,39 persen, keduanya di atas ambang batas ketentuan masing-masing 50 persen dan 10 persen.

Tingkat risiko kredit perbankan mengalami pergerakan minor. Rasio NPL gross naik ke level 2,17 persen dan NPL net menjadi 0,84 persen.

>>> Jennifer Coppen dan Justin Hubner Menikah pada 13 Juni 2026 Disiarkan Langsung di SCTV

Namun, potensi pinjaman bermasalah (Loan at Risk) berhasil ditekan ke angka 8,82 persen, dengan rasio kecukupan modal bank di level 23,97 persen.