Maskapai penerbangan pun harus menghadapi pembengkakan pada komponen biaya operasional terbesar mereka.

>>> Bursa Saham Korea Selatan Anjlok, KRX Aktifkan Circuit Breaker

Maskapai besar di wilayah Teluk seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakpastian operasional ini.

Hal tersebut terjadi menyusul penutupan ruang udara regional di awal konflik.

Menurut Willie Walsh, sebagian besar kawasan dunia sebenarnya masih berpotensi mencetak keuntungan meskipun nilainya menyusut. Sebaliknya, maskapai di Timur Tengah diprediksi akan mengalami kerugian akibat merosotnya permintaan perjalanan.

Penurunan Profitabilitas Per Penumpang

IATA mengalkulasi total tagihan bahan bakar maskapai global akan membubung menjadi US$ 350 miliar tahun ini, naik dari US$ 252 miliar pada 2025.

Pengeluaran untuk avtur kini menyedot hampir sepertiga dari keseluruhan biaya operasional.

Konsekuensinya, tingkat keuntungan dari setiap penumpang akan tergerus.

Maskapai penerbangan diproyeksikan hanya mendulang laba sekitar US$ 4,50 per penumpang, atau menyusut setengah dari perolehan tahun lalu.

Willie Walsh memproyeksikan tekanan biaya avtur ini akan memicu kebangkrutan atau akuisisi pada sejumlah maskapai skala kecil sepanjang tahun ini hingga tahun depan.

Sebagai contoh, Spirit Airlines yang merupakan salah satu maskapai berbiaya rendah di Amerika Serikat telah menghentikan operasionalnya bulan lalu.

Maskapai tersebut menjadi korporasi penerbangan pertama yang tumbang akibat dampak perang Iran.

Langkah efisiensi kini mulai diambil dengan rencana pemangkasan rute-rute penerbangan yang tidak menguntungkan demi menjaga margin perusahaan.

>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas, Hartadinata, dan Laku Emas 8 Juni 2026 Turun

Sementara itu, tren tarif tiket pesawat yang sudah melonjak sejak awal konflik Iran diperkirakan belum akan turun dalam waktu dekat.