Seorang jemaah haji lansia asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Painah (65), berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah fisik di Makkah tanpa menggunakan bantuan kursi roda pada Minggu (7/6/2026).

Painah mampu menjalani ibadah tawaf, sa'i, hingga melontar jumrah secara mandiri di tengah kepadatan jutaan jemaah.

>>> Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan, Picu Tsunami Setinggi 1 Meter

Petugas Media Center Haji melaporkan bahwa Painah sama sekali tidak mengeluhkan rasa lelah setelah beraktivitas fisik berat.

"Tidak (capek)," jawab Mbah Painah dengan enteng saat diwawancarai petugas Media Center Haji.

Kebiasaan Berjalan Kaki Sejak 35 Tahun

Kondisi fisik prima ini dipengaruhi oleh profesi Painah sebagai penjual daun pisang yang dijalani selama 35 tahun.

Setiap hari sejak pukul 01.30 WIB, dia terbiasa berjalan kaki melintasi lima desa untuk mengantarkan dagangannya ke pasar pagi dan para pelanggan tetap.

"Jalan kaki saya," ucapnya ringkas.

Keberangkatan Painah ke Tanah Suci terwujud berkat ketekunannya menabung uang receh sisa hasil jualan selama 18 tahun.

Uang tersebut dititipkan melalui arisan kampung serta tabungan ibu-ibu PKK.

"Kalau ada sisa ya saya kumpulkan," ungkap Mbah Painah.

>>> LPS Bayar Klaim Penjaminan Simpanan Nasabah BPR Rp299 Miliar

Pendapatan yang disisihkan dari hasil berjualan daun pisang tersebut jumlahnya tidak menentu, paling sekitar dua ratus ribu rupiah.

Pendaftaran haji awalnya diinisiasi oleh sang suami yang mengajaknya berangkat bersama. Namun, suami dinyatakan tidak lolos persyaratan kesehatan akibat menderita gangguan penyakit jantung.

Kursi keberangkatan yang kosong akhirnya dilimpahkan kepada anak kandung mereka yang kini bertugas mendampingi Painah selama di Arab Saudi.

"Yang ngajak dulu malah tidak berangkat," cerita anaknya pelan.

Selama berada di tempat-tempat mustajab, termasuk saat wukuf di Padang Arafah, Painah memprioritaskan doa untuk kesehatan seluruh anak dan cucunya.

"Saya memohon anak-anak dan cucu-cucu sehat walafiat," tuturnya.

Painah juga memberikan jawaban jenaka ketika ditanya mengenai harapan pribadi setelah menyelesaikan ibadah haji.

"Sugih (kaya)," jawabnya dalam bahasa Jawa. Makna kekayaan yang diinginkan bukan sekadar harta materi, melainkan kecukupan dalam aspek kesehatan fisik.

>>> Cadangan Devisa Indonesia Turun ke US$ 144,9 Miliar pada Mei 2026

"Yang penting sugih waras (kekayaan berupa kesehatan)," ungkapnya.