Dia juga menjabarkan sejumlah langkah perlindungan data nasabah melalui penguatan tata kelola, sistem keamanan digital, hingga edukasi literasi keuangan secara rutin di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber dan maraknya modus penipuan digital berbasis AI hingga deepfake.

Menurut dia, penggunaan teknologi AI tidak hanya digunakan untuk meningkatkan layanan digital, tetapi juga mendeteksi potensi fraud secara lebih cepat dan akurat.

Langkah ini dinilai penting mengingat modus kejahatan digital terus berkembang, mulai dari phishing, impersonasi, hingga social engineering yang memanfaatkan aspek psikologis korban.

Yessika mengungkapkan bahwa salah satu modus yang paling sering terjadi saat ini adalah penipuan melalui telepon atau tautan palsu yang dibuat menyerupai kanal resmi bank.

Pelaku biasanya menciptakan situasi panik agar korban secara tidak sadar memberikan data pribadi atau mengklik tautan tertentu.

“Pelaku sekarang sangat meyakinkan. Bahkan nomor telepon atau logo yang digunakan bisa menyerupai call center resmi bank.

Karena itu nasabah harus selalu melakukan verifikasi melalui channel resmi,” terangnya.

Perseroan menegaskan bahwa pihak bank tidak pernah meminta data pribadi nasabah melalui sambungan telepon, WhatsApp, maupun tautan tidak resmi.

Seluruh proses verifikasi data hanya dilakukan melalui kanal resmi bank atau secara langsung di kantor cabang.

Selain memperkuat sistem keamanan internal, Maybank juga aktif memberikan edukasi kepada nasabah dan masyarakat terkait modus-modus penipuan digital.

Edukasi tersebut dilakukan secara rutin melalui media sosial, website, hingga berbagai kanal komunikasi perusahaan.

>>> Kemenhaj Mulai Berangkatkan Jemaah Haji Gelombang Kedua ke Madinah

“Literasi dan edukasi menjadi sangat penting karena fraud sekarang tidak hanya menyasar nasabah bank, tetapi juga masyarakat luas dengan memanfaatkan kebocoran data pribadi,” katanya.