BTN Perkuat Manajemen Risiko untuk Tekan Rasio Kredit Bermasalah
Salah satu transformasi utama yang dijalankan BTN adalah implementasi Loan Factory.
Sistem ini merupakan pusat pemrosesan kredit terintegrasi yang mengonsolidasikan proses kredit konsumer secara nasional melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, decision engine, dan workflow automation.
Transformasi tersebut memperkuat standardisasi proses kredit, meningkatkan kualitas verifikasi dan analisis, serta mempercepat proses pengambilan keputusan kredit.
Melalui proses yang terdigitalisasi dan tersentralisasi, BTN dapat menjaga kualitas kredit baru secara konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi layanan kepada masyarakat.
>>> Timnas U19 Indonesia Targetkan Kemenangan atas Vietnam untuk Lolos Semifinal
Implementasi Loan Factory juga mendapat perhatian positif dari analis pasar modal. Dalam laporan hasil site visit yang diterbitkan pada April 2026, analis Bahana Sekuritas Razqi M.
Kurniawan menilai perbaikan kualitas aset pada kredit baru sebagai salah satu pencapaian penting dari sistem tersebut.
Berdasarkan kajian tersebut, kualitas kredit berdasarkan tahun pembukuan menunjukkan tren yang semakin sehat.
Kredit yang dibukukan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan tingkat risiko yang jauh lebih terkendali dibandingkan portofolio lama, sehingga memperkuat fondasi kualitas aset BTN ke depan.
Selain meningkatkan kualitas kredit baru, implementasi Loan Factory mendorong efisiensi operasional secara signifikan. Waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya berkisar 10-14 hari berhasil dipangkas menjadi sekitar 4-7 hari.
Tingkat straight-through processing juga meningkat menuju kisaran 70%, sementara tingkat rework atau proses ulang berhasil ditekan hingga di bawah 15%.
Pengelolaan Portofolio Berbasis Cluster Collection
BTN juga memperkuat pengelolaan portofolio melalui pendekatan Cluster Collection. Sistem ini merupakan model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, karakteristik debitur, serta perilaku pembayaran.
Melalui pendekatan ini, proses monitoring, restrukturisasi, penagihan, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan secara lebih fokus, cepat, dan efektif.
Update Terbaru
Pindad Fokus Garap Mobil Nasional, Motor Listrik Dikerjakan Entitas Lain
Kamis / 23-07-2026, 17:28 WIB
Hasil China Open 2026: Jonatan Christie ke Perempat Final Usai Rubber Game
Kamis / 23-07-2026, 17:28 WIB
Aktor Sinetron Iain Robertson Dihukum 9 Tahun Penjara karena Pemerkosaan dan Pelecehan Seksual
Kamis / 23-07-2026, 17:27 WIB
Sucofindo Dukung DSI Perkuat Verifikasi Cegah Under-Invoicing
Kamis / 23-07-2026, 17:27 WIB
Komdigi Minta Operator dan Gerai Patuhi Kebijakan Registrasi Biometrik
Kamis / 23-07-2026, 17:27 WIB
Kasus Pembunuhan Sesama WNI di Armenia, Empat Terduga Pelaku Ditahan
Kamis / 23-07-2026, 17:23 WIB
Kepala BGN Baru Sudaryono Tegaskan MBG Tak Bisa Dihentikan
Kamis / 23-07-2026, 17:23 WIB
Jadwal dan Daftar Harga Tiket Fan Meeting Byeon Woo-seok Jakarta 2026
Kamis / 23-07-2026, 17:23 WIB
Seni Menjadi Orang Tua di Era Digital: Tak Membatasi tapi Beradaptasi
Kamis / 23-07-2026, 17:23 WIB
Prime Video Rilis Trailer The Chosen in the Wild with Bear Grylls, Tayang 9 Agustus
Kamis / 23-07-2026, 17:23 WIB
Goodbye, Lara: Sutradara Takushi Koide Ungkap Makna Cinta Sejati dan Latar Danau Biwa
Kamis / 23-07-2026, 17:22 WIB
Manga Mavericks Books Umumkan Lisensi Our Insignificant Justice dan Chapter 5 Divine Messengers di SDCC 2026
Kamis / 23-07-2026, 17:22 WIB
Lima Fitur Unggulan Samsung Galaxy Z Fold 8 yang Mengesankan
Kamis / 23-07-2026, 17:14 WIB
TM Roh Tegaskan Samsung Tak Takut dengan iPhone Lipat Apple
Kamis / 23-07-2026, 17:14 WIB







