"Motor kami sangat gelisah saat pengereman. Itu terlihat jelas ketika saya terjatuh di Jerez.

Pembalap harus benar-benar presisi karena motor bergerak terlalu banyak," ulasnya.

Upaya Menemukan Keseimbangan

Menurut Bagnaia, karakter tersebut membuat Ducati kehilangan satu di antara kekuatan utamanya dalam beberapa musim terakhir.

>>> Aturan Runner-up Terbaik Piala AFF U-19 Buka Peluang Timnas Indonesia

"Ini bukan lagi Ducati yang bisa direm sangat keras, masuk tikungan dengan agresif, lalu tetap stabil," kata rider berusia 29 tahun itu.

Ia mengakui Alex Marquez sempat mampu memaksimalkan motor Ducati di Jerez, tetapi kondisi secara keseluruhan masih jauh dari ideal.

"Alex Marquez berhasil membuat motor itu bekerja di Jerez. Jadi, ini memang momen yang rumit.

Tetapi, seperti yang sudah sering saya katakan, saya selalu percaya diri datang ke grand prix dan bersaing di depan," ucapnya.

"Saya tetap yakin kami punya potensi untuk berada di barisan depan. Kami hanya perlu menemukan keseimbangan yang tepat," lanjut Bagnaia.

Posisi Bagnaia di klasemen sementara MotoGP saat ini masih tercecer di urutan kesembilan.

Namun, harapannya untuk bangkit bisa terbantu oleh pengembangan aerodinamika baru yang sempat diuji Ducati di Jerez.

Meski begitu, komponen tersebut kemungkinan belum akan digunakan di Le Mans dan baru dipakai pada seri berikutnya, di Barcelona.

"Saya rasa sebenarnya mungkin saja dipakai di Le Mans, tetapi jumlah unitnya tidak banyak," kata Bagnaia.

"Kalau nanti kondisi lintasan berubah-ubah, saya rasa kami tidak akan memakainya karena kami tidak ingin merusaknya sebelum Barcelona.

Di sana, aspek aerodinamika bisa memberi perbedaan besar."

>>> Lewis Hamilton Incar Start Terbaik demi Menangi GP Monako

"Saya rasa kami tidak akan menggunakannya di sini, tetapi nanti kami lihat saja," ucapnya.