Koalisi Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyoroti lonjakan masif jumlah perokok muda di Indonesia.

Hal ini dipicu oleh maraknya rokok murah dan paparan iklan rokok yang intensif.

>>> Marc Marquez Juarai MotoGP Hungaria 2026 di Sirkuit Balaton Park

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara CFD Koalisi SOS pada Minggu, 7 Juni 2026.

Data Riset Kesehatan Indonesia (Riskesdas) 2023 mencatat jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70,2 juta jiwa.

Indonesia kini berada di peringkat ketiga global sebagai negara dengan konsumen tembakau tertinggi setelah China dan India. Kekhawatiran terhadap situasi ini disampaikan oleh perwakilan koalisi.

"Sebagai pemuda dan generasi penerus bangsa, saya khawatir bila hal ini terus dibiarkan.

Remaja yang terpapar iklan rokok memiliki peluang 1,67 kali lebih besar untuk menjadi perokok aktif," ujar Lazuardi Hakiman Hanif, Perwakilan Koalisi IYCTC.

IYCTC meluncurkan program Dewan Perwakilan Remaja (DPRemaja) untuk memantau situasi di lapangan.

Hasil pemantauan di Cilincing, Matraman, dan Tanah Abang menunjukkan puluhan ribu anak terkepung oleh ratusan titik iklan rokok setiap hari.

Kemasan produk tembakau dan rokok elektrik yang menggunakan tema petualangan dinilai memperbesar risiko adiksi nikotin pada generasi muda.

>>> Mengenal Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi dari Sisi Astronomi

Hal ini berpotensi merusak visi Indonesia Emas 2045.

Peringatan mengenai ancaman target pemasaran industri rokok terhadap generasi usia produktif juga disuarakan dalam momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS).

"HTTS 2026 menjadi ruang yang tepat untuk mengingatkan bahwa generasi usia produktif tidak boleh terus menjadi sasaran pemasaran industri rokok," tutur Aryana Satrya, Ketua PKJS UI.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kemenkes, prevalensi perokok usia 10-18 tahun mencapai 7,4 persen dari total perkiraan 70 juta perokok aktif.

Lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok anak dan remaja.

Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 menunjukkan prevalensi perokok anak sekolah usia 13-15 tahun naik menjadi 19,2 persen dari sebelumnya 18,3 persen pada 2016.

Sementara data SKI 2023 mencatat kelompok usia 15-19 tahun menjadi perokok terbanyak dengan persentase 56,5 persen, diikuti usia 10-14 tahun sebesar 18,4 persen.

Peningkatan juga terjadi pada penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja dalam empat tahun terakhir.

>>> Gejala Psikopat Bisa Terlihat Sejak Usia 2 Tahun, Ini Tandanya

Merujuk data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi pengguna rokok elektrik melonjak menjadi 3 persen dari yang sebelumnya hanya 0,3 persen pada 2019.