Ia mencontohkan pemerintah Indonesia yang telah menyetarakan bonus medali atlet disabilitas serta membangun Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia seluas sepuluh hektar di Karanganyar, Jawa Tengah.

"Seperti yang kita tahu bahwa negara-negara di ASEAN itu masih banyak yang memarjinalkan masyarakat difabel.

Itu yang perlu kita bangkitkan semangat negara-negara tersebut agar bisa seperti Indonesia," ujar Senny.

Ia berencana melakukan kunjungan langsung untuk mengadvokasi kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas di negara anggota lain.

"Saya akan coba datang ke negara-negara yang belum disentuh oleh pemerintahnya.

Saya akan coba meminta kepada negaranya untuk mengangkat harkat martabat masyarakat difabel, seperti yang sudah dilakukan di Indonesia," katanya.

Program Kerja Wakil Presiden APSF

Wakil Presiden APSF bidang Olahraga dan Teknis, Teo-Koh Sock Miang, memaparkan program kerja untuk mendorong negara-negara ASEAN menyelenggarakan kejuaraan single event.

Langkah ini dinilai strategis bagi anggota yang belum siap menggelar kompetisi multi event guna melatih tenaga teknis, klasifier, hingga kepemimpinan lapangan.

"Kita harus mengakui bahwa masih ada negara-negara yang belum siap dan belum mampu menyelenggarakan kompetisi multi event yang mencakup banyak cabang olahraga.

Maka kita akan mendorong negara-negara tersebut untuk menggelar single event, agar bidang-bidang yang lain ikut terangkat," jelas Teo-Koh.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi atlet disabilitas demi menjaga keberlanjutan prestasi di tingkat dunia.

>>> Gubernur Bengkulu Instruksikan Gaji ke-13 ASN Cair Paling Lambat Senin

"Kita harus sadar untuk mulai memperhatikan generasi berikutnya, agar tidak terjadi generation gap. Kita mulai memikirkan untuk bisa menyelenggarakan youth games," pungkasnya.