Jakarta, CNBC Indonesia - Kentut atau buang angin sering dianggap memalukan, padahal proses alami ini bisa menjadi indikator penting kesehatan sistem pencernaan.

Menurut ahli gizi Shy Vishnumohan, frekuensi kentut memberikan gambaran aktivitas bakteri baik di usus.

>>> Klive Beach Club Gelar Kegiatan Sosial Bersama Anak-Anak di Bali

"Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali sehari dianggap normal.

Kentut yang lebih sering sering dikaitkan dengan karbohidrat yang lebih mudah difermentasi, termasuk kacang-kacangan, alkohol gula, makanan tinggi FODMAP, atau intoleransi terhadap laktosa maupun fruktosa," ujarnya seperti dikutip dari Eating Well.

Dalam dunia medis, kentut bukan sekadar proses membuang gas.

Frekuensi, aroma, hingga karakteristik gas yang dikeluarkan tubuh dapat menjadi petunjuk apakah sistem pencernaan bekerja dengan baik atau justru mengalami gangguan.

Secara ilmiah, kentut merupakan campuran udara yang tertelan saat makan dan gas yang diproduksi mikrobioma usus ketika memecah makanan.

Aktivitas bakteri di saluran pencernaan menghasilkan berbagai jenis gas sebagai produk sampingan proses fermentasi.

Bau Kentut Bisa Jadi Sinyal Kesehatan

Meski sering dianggap menjijikan, aroma kentut ternyata dapat memberikan informasi penting mengenai kondisi usus. Sebagian besar gas yang keluar sebenarnya tidak berbau.

Aroma menyengat muncul akibat sejumlah kecil senyawa yang mengandung sulfur yang terbentuk selama proses pencernaan.

Vishnumohan menjelaskan bahwa bau kentut dapat bervariasi, mulai dari hampir tidak tercium hingga sangat menyengat, tergantung jenis makanan yang dikonsumsi serta komposisi bakteri di dalam saluran pencernaan.

Sementara itu, ahli gizi Ava Safir mengatakan perubahan aroma yang terjadi sesekali masih tergolong normal. Namun, kondisi berbeda perlu diwaspadai jika bau tidak sedap muncul terus-menerus.