Pemilik sepeda motor listrik kelas entry level kini banyak yang mengganti baterai Sealed Lead Acid (SLA) dengan litium.

Langkah ini diambil untuk mendapatkan bobot lebih ringan, umur pakai lebih panjang, dan daya jelajah yang lebih baik.

>>> Lonjakan BTS 5G Tiga Operator Seluler Terbesar di Indonesia

Meskipun memerlukan dana tambahan, peningkatan performa dinilai sebanding oleh para pengguna.

Muhlasin, pemilik bengkel spesialis motor listrik EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengatakan konsumen bisa memilih produk pabrikan atau rakitan custom.

"Harga baterai pabrikan dan custom mirip-mirip tergantung kebutuhan," ujar Muhlasin. Biaya konversi dari SLA ke litium bergantung pada model kendaraan, tegangan, dan kapasitas daya yang diinginkan.

Untuk sepeda listrik, dana yang dibutuhkan berkisar Rp 1,9 juta hingga Rp 3 juta.

Sementara untuk motor listrik, anggarannya lebih besar, yaitu Rp 4 jutaan sampai Rp 9 jutaan.

>>> Pemerintah Salurkan Subsidi dan Kompensasi Rp203,7 Triliun hingga Mei 2026

"Kapasitas baterai ini berpengaruh ke jarak tempuh nantinya," jelas Muhlasin. Biaya tersebut sudah mencakup penyesuaian sistem kelistrikan agar baterai litium baru dapat bekerja optimal.

Peningkatan jarak tempuh menjadi faktor pendorong utama modifikasi ini. Dengan kapasitas penyimpanan daya lebih besar, kendaraan mampu menempuh perjalanan lebih jauh.

Muhlasin mencontohkan motor dengan voltase kecil, misal 48 atau 60 volt, biasanya memiliki kapasitas 20 Ah dan jarak tempuh 40-50 kilometer.

"Cukuplah buat wira-wiri jarak dekat, seperti ke sekolah atau pasar," katanya.

>>> Fabio Capello Ungkap Alasan Depak Ronaldo Nazario dari Real Madrid

Pengendara dengan mobilitas harian lebih tinggi dapat memilih kapasitas daya lebih besar dengan konsekuensi biaya meningkat. Namun, pilihan tersebut memberikan fleksibilitas lebih karena jarak tempuh otomatis bertambah.