Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menyatakan bahwa kombinasi ketidakpastian kebijakan domestik, tekanan nilai tukar, dan dinamika pasar global menjadi pemicu koreksi pasar ekuitas domestik.

Dari sisi domestik, implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan kenaikan tarif royalti komoditas mineral dinilai menghadirkan dilema bagi pelaku usaha.

>>> Indonesia Tawarkan Proyek Giant Sea Wall ke Rusia di Forum SPIEF 2026

Kebijakan tersebut berpotensi menggerus profitabilitas perusahaan dan memengaruhi nilai yang diterima pemegang saham.

Sentimen eksternal juga turut mempercepat keluarnya dana asing dari pasar domestik.

Proses evaluasi bobot Indonesia dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI, serta peninjauan ulang peringkat kredit Indonesia, meningkatkan kehati-hatian investor global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu mengenai kewajiban pembelian Merah Putih Bond oleh WNI.

Tekanan semakin besar seiring pelemahan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan kurs JISDOR, rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,86% sejak awal tahun ke level Rp18.039 per dolar AS.

Prospek kebijakan moneter global juga masih menjadi perhatian.

Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi di AS, membuka peluang bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin hingga akhir tahun.

>>> Cara Cek Bansos BPNT via Situs Resmi dan Aplikasi

"Kondisi ini memaksa era suku bunga tinggi bertahan lebih lama," ujar Ratih kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Strategi Defensif Ajaib Sekuritas

Menghadapi volatilitas tinggi, Ajaib Sekuritas mengadopsi sikap defensif dengan fokus pada perlindungan modal, optimalisasi imbal hasil jangka pendek, dan akumulasi selektif pada aset valuasi murah.

Alokasi aset yang disarankan: 45% di reksadana pasar uang, 20% value stock, dan 35% cash.