Ini menjadi program yang akan dilakukan juga di tahun 2027," jelas Eniya.

Berdasarkan RUTPL 2025-2034, pemerintah dan PLN menargetkan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebanyak 52,8 GW atau 76% dari total kapasitas, dengan porsi PLTS sebesar 17,1 GW.

Penambahan ini akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai fasilitas penyimpanan energi.

Kesiapan PLN dan Target Presiden

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan kesiapannya menambah kapasitas pembangkit EBT sesuai target.

Pembangunan PLTS dan BESS menjadi andalan utama PLN dalam menjalankan program dedieselisasi untuk mengganti pembangkit berbasis BBM.

"Kami juga dimonitor dan diminta melaporkan dalam jadwal yang sangat ketat. Kemudian penambahan juga baik untuk listrik desa, maupun penugasan tambahan 100 GW, kami siap menjalankan.

Akan di-launching juga segera untuk tahap pertama, quick win ada 39 GWh BESS dan 17 GWp," ujar Darmawan.

Target kapasitas PLTS 100 GW sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026), dengan target pencapaian dalam tiga tahun.

>>> Maybank Indonesia Gelar RUPSLB Akhir Juni Bahas Akuisisi Tiga Perusahaan

Proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 71,3 miliar atau Rp 1.140 triliun.

Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain) Tata Mustasya menilai komitmen ini penting untuk jangka menengah dan panjang.

Tantangan utamanya adalah mengakselerasi kapasitas PLTS nasional yang baru tumbuh rata-rata 0,5 GW per tahun.

"100 GW energi surya merupakan ambisi jangka panjang, dan Indonesia memang harus memiliki ambisi tersebut.

Sebabnya, Indonesia memiliki potensi energi matahari yang melimpah dan ongkos pembangkitannya terus turun, termasuk dari penurunan harga BESS," kata Tata.