Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksi memberikan tekanan tambahan bagi emiten sektor konsumer. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada bahan baku impor.

Pergerakan nilai tukar dan daya beli masyarakat akan menjadi penentu utama kinerja sektor konsumer ke depan.

>>> Meteorit Langka di Gurun Sahara Ungkap Keberadaan Dunia yang Hilang

Subsektor yang paling terdampak meliputi makanan, minuman, susu, farmasi, personal care, hingga produk berbasis petrokimia.

Analisis dari Bumiputera Sekuritas menyebutkan bahwa dampak fluktuasi mata uang ini bervariasi bagi setiap perusahaan. Kenaikan biaya produksi berpotensi menggerus profitabilitas jika emiten terlambat merespons pasar.

"Kenaikan biaya bahan baku impor akan menekan margin laba apabila perusahaan tidak mampu melakukan penyesuaian harga jual secara cepat," ujar Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas.

Meski begitu, dampak pelemahan rupiah pada tahun ini dianggap lebih terkendali daripada periode 2022-2024.

Inflasi domestik terpantau masih masuk dalam target Bank Indonesia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9% hingga 5,7%.

Perusahaan FMCG skala besar seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dinilai lebih adaptif dalam meneruskan beban biaya ke konsumen.

Pergerakan harga komoditas gula dan kakao yang moderat turut membantu menjaga stabilitas kinerja mereka.

Ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan berbasis dolar AS juga menjadi perhatian bagi analis pasar modal lainnya. Kondisi ini secara langsung memicu kenaikan biaya produksi komoditas konsumsi.

"Prospek sektor konsumer masih positif dengan tanda-tanda pemulihan yang semakin terlihat," ucap Brigita Kinari, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas.