Warna kulit pisang bukan sekadar penanda kematangan, melainkan juga cerminan kandungan nutrisi di dalamnya. Memahami perbedaan ini membantu masyarakat memilih pisang sesuai kebutuhan gizi.

Pisang merupakan buah tropis yang padat nutrisi, praktis, dan mudah didapat.

>>> IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Buah ini mengandung kalium, fosfor, magnesium, vitamin C, serta vitamin B6 yang mendukung kesehatan jantung, kekebalan tubuh, tulang, dan metabolisme.

Tiga Tahap Kematangan Pisang

Tingkat kematangan pisang terbagi menjadi tiga fase utama: hijau, kuning, dan cokelat. Setiap fase memiliki profil nutrisi yang berbeda.

Pisang hijau mengandung klorofil yang memberi warna hijau. Pada fase ini, kandungan utama adalah pati dengan kadar gula rendah.

Ilmuwan pangan Abbey Thiel, PhD menjelaskan bahwa molekul pati pada pisang hijau memberikan tekstur keras dan padat. Meski kurang manis, pisang mentah ini menawarkan manfaat kesehatan unik.

Ahli gizi Mellisa Jaeger mengungkapkan bahwa pisang hijau kaya akan pati resisten, yaitu serat yang mendukung kesehatan mikrobioma usus dan membantu pengelolaan gula darah.

Sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa kandungan serat pada pisang hijau jauh lebih tinggi dan menurun seiring pematangan.

Sebaliknya, kadar gula meningkat saat pisang mulai menguning.

Saat pisang matang, kulitnya berubah menjadi kuning. Enzim di dalam kulit mulai menguraikan klorofil, sementara enzim lain memecah pati menjadi gula sederhana.

Proses ini membuat pisang lebih manis dan teksturnya lebih lembut.

>>> Dua Wakil Indonesia Lolos ke Final Indonesia Open 2026

Ahli gizi Wan Na Chun menambahkan bahwa pisang kuning kaya serat, kalium, vitamin B6, dan vitamin C, sehingga menjadi sumber energi yang baik dan mudah dicerna.