China menerapkan aturan pajak baru yang mengubah lanskap mobil hibrida plug-in (PHEV) secara drastis. Kini, hanya PHEV dengan jarak tempuh listrik minimal 100 km yang mendapatkan keringanan pajak.

Sebelumnya, ambang batas hanya 43 km. Kebijakan ini mendorong produsen lokal China untuk menghadirkan PHEV dengan baterai besar, sementara merek Eropa kesulitan bersaing.

>>> BMW iX3 Kalahkan 23 EV Lain dalam Uji Jarak Tempuh, Lampaui Janjinya

Menurut laporan Automotive News, Audi, BMW, Mercedes-Benz, dan Jaguar Land Rover telah mengurangi atau menghentikan penjualan PHEV mereka di China.

Model-model lama tidak lagi memenuhi syarat insentif.

PHEV buatan China kini menawarkan jarak tempuh listrik lebih dari 160 km.

>>> Koenigsegg One:1 yang Dikabarkan Dicuri Ternyata Tidak Pernah Hilang, Kini Dilelang

Lotus Eletre hybrid bahkan diklaim mampu menempuh 420 km dalam siklus CLTC China, atau 350 km dalam siklus WLTP Eropa.

Selain jarak tempuh, aturan baru juga memperketat efisiensi bahan bakar saat mesin bensin bekerja. Hal ini merugikan PHEV Eropa yang masih mengandalkan mesin V8 besar.

Akibatnya, PHEV warisan yang masih populer di Eropa kini terlihat usang di China. Produsen China seperti Lynk & Co dan Volvo mulai mengekspor PHEV jarak jauh ke Eropa.

>>> Kamar Mandi Pop-Up di Trailer Kecil, Solusi Cerdas Encore RV

Volvo XC70 anyar misalnya, menawarkan jarak tempuh listrik 180 km. Strategi China mengubah PHEV dari kompromi menjadi solusi listrik dominan, dan merek Barat harus beradaptasi.