Harga Emas Diperkirakan Masih Rentan Melanjutkan Pelemahan pada Pekan Depan
>>> 12 Kebiasaan Sehat untuk Perempuan Menurut Pakar Kesehatan
Indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) akan dirilis Rabu, dan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) pada Kamis.
Jika inflasi menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar.
Kondisi ini berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi harga emas.
Analis senior FxPro Alex Kuptsikevich memperkirakan harga emas masih berisiko turun menuju area US$ 4.250 per ons troi.
"Semakin sering area support jangka panjang diuji, semakin besar peluang terjadinya penembusan. Risiko penurunan masih mendominasi dalam jangka pendek," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady.
Menurut dia, emas masih berpotensi menguji kembali area US$ 4.128 per ons troi yang menjadi titik terendah pada Maret lalu.
Peluang Akumulasi Jangka Panjang
Meski demikian, tidak semua analis bersikap pesimistis.
Presiden Asset Strategies International Rich Checkan menilai koreksi harga emas saat ini sudah berlebihan dan berpotensi menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.
Menurutnya, tingginya inflasi global, ketidakpastian geopolitik, serta berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral dunia masih menjadi fondasi kuat bagi pergerakan harga emas dalam jangka panjang.
Founder dan Executive Director B2PRIME Group Eugenia Mykuliak juga menilai pelemahan harga emas saat ini lebih mencerminkan benturan antara aksi ambil untung investor jangka pendek dan permintaan strategis dari bank sentral.
"Selama bank sentral masih terus membeli emas dan risiko global tetap tinggi, fundamental emas sebagai aset safe haven masih sangat kuat," ujarnya.
Dengan demikian, meski prospek jangka pendek masih dibayangi risiko koreksi lanjutan, sejumlah analis menilai tren bullish emas dalam jangka panjang belum berakhir.
>>> Rasulullah Mengajarkan Doa Menjenguk Orang Sakit Demi Kesembuhan
Arah pergerakan logam mulia pekan depan akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Update Terbaru
Cremonese Siapkan Fondasi Skuad Baru dan Bidik Andrea Fulignati
Sabtu / 06-06-2026, 17:47 WIB
Emil Audero Puji Performa Elkan Baggott yang Gantikan Jay Idzes
Sabtu / 06-06-2026, 17:42 WIB
Ribuan EXO-L Padati Indonesia Arena Jelang Konser EXO PLANET 6
Sabtu / 06-06-2026, 17:40 WIB
Kawasan Luar Istora Senayan Disulap Jadi Area Sportainment Populer
Sabtu / 06-06-2026, 17:40 WIB
Penyebab Kebakaran PT Dua Putra Utama Makmur di Pati Masih Menunggu Hasil Labfor
Sabtu / 06-06-2026, 17:37 WIB
Desainer Interior Ungkap Alasan Sofa Tidak Boleh Menempel ke Dinding
Sabtu / 06-06-2026, 17:36 WIB
The Oblivious Saint Can't Contain Her Power Rilis Visual Utama dan Tambahan Pemeran
Sabtu / 06-06-2026, 17:32 WIB
Mama Sinta Minta Perlindungan LPSK Terkait Film Pesta Babi
Sabtu / 06-06-2026, 17:32 WIB
Baliho PB XIV Hangabehi Bermunculan di Solo, Kubu Purboyo Pertimbangkan Gugatan Hukum
Sabtu / 06-06-2026, 17:29 WIB
Menteri Keuangan Tegaskan Kas Negara Kuat Capai Rp 513 Triliun
Sabtu / 06-06-2026, 17:23 WIB
Kemenhaj RI Kawal Kepulangan Puluhan Ribu Jemaah Haji ke Tanah Air
Sabtu / 06-06-2026, 17:22 WIB
IHSG Terkoreksi Dalam, Kinerja Emiten Investasi Bervariasi
Sabtu / 06-06-2026, 17:22 WIB
Kit Rp67 Juta Ubah Toyota Probox Jadi Land Cruiser Klasik
Sabtu / 06-06-2026, 17:20 WIB
Meta hingga Starlink Bantu DOJ Bongkar Sindikat Penipuan Online di Asia Tenggara
Sabtu / 06-06-2026, 17:20 WIB






