Kinerja pasar modal Indonesia sedang lesu. Sinarmas Sekuritas membagikan strategi investasi taktis seperti fast trade hingga cut loss.

Kemerosotan performa IHSG berisiko memperlebar kerugian investor. Oleh karena itu, penerapan strategi yang disiplin menjadi krusial.

>>> Audi Indonesia Resmi Luncurkan SUV Premium The New Audi Q5 Sportback

Sinarmas Sekuritas memproyeksikan IHSG masih dibayangi aksi jual masif. Dalam situasi ini, investor dapat menerapkan fast trade atau swing trade.

Koreksi indeks sebesar 2 hingga 4 persen bisa dimanfaatkan sebagai momentum. Strategi swing trade layak diaplikasikan untuk mengejar potensi pemulihan teknikal jangka pendek.

"Tekanan jual bagi IHSG masih cukup deras. Strategi yang mantap adalah fast trade atau swing trade, memanfaatkan technical rebound.

Untuk hold, cicil beli bertahap, jangan all cash," kata Ike dalam acara tersebut, Sabtu (6/6/2026).

Opsi cut loss juga menjadi jalan keluar logis bagi investor yang sudah rugi mengambang hingga puluhan persen. Keputusan itu kembali pada kekuatan modal dan toleransi risiko masing-masing.

"Mau rugi berapa persen, karena tekanannya masih ke bawah, kita harus minimalisir. Nanti saat makin turun, kita bisa buyback di bawah," katanya.

Pembelian saham untuk jangka panjang baru ideal dilakukan saat tekanan jual mereda dan indeks mulai pulih. Kondisi ini harus didukung stabilitas rupiah serta posisi Indonesia di MSCI.

>>> DJP Rombak Ketentuan PPh Final UMKM, Hanya Tiga Kelompok yang Bisa Nikmati

Sentimen Global dan Domestik yang Mempengaruhi Pasar

Pasar saham dalam negeri dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, fokus tertuju pada depresiasi rupiah, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan risiko status MSCI.

Dari luar negeri, perhatian tertuju pada eskalasi geopolitik global, arah suku bunga The Fed, dan penerapan tarif impor baru AS.

Investor dapat memanfaatkan pemulihan teknikal pada saham Grup Prajogo Pangestu, emiten eks MSCI, hingga Grup Happy Hapsoro. Namun, akumulasi saham tersebut bukan untuk investasi jangka panjang.

"Grup Prajogo Pangestu masih oke, emiten eks MSCI yang baru keluar bisa dipantau. Saat drop, boleh masuk, saat rebound lepas semua, jangan di-hold.

Grup Hapsoro juga sama," katanya.

Pergerakan dana asing bisa menjadi acuan tambahan memilih saham saat pasar terkoreksi. Namun, pemanfaatan technical rebound tetap menjadi rekomendasi utama.

"Kita bisa contoh saham koleksi asing. Saat market turun, perhatikan asing beli apa.

>>> Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Tembus Top 10 Dunia

Nanti saat rebound, lepas semua. Jangan pegang lebih dari 1 minggu," katanya.