Kemenkes: Gula Aren Tak Lebih Sehat dari Gula Pasir, yang Penting Kurangi Asupan
Kementerian Kesehatan menyoroti tren penggunaan gula aren pada minuman kekinian seperti kopi susu yang kerap dianggap lebih sehat oleh masyarakat.
Fenomena ini mendapat perhatian karena penggantian jenis gula dinilai bukan solusi utama untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi manis berlebih.
>>> Memahami Konsep AI Sandwich: Manusia Tetap Jadi Pengendali Utama Teknologi
Penegasan tersebut disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, M. Epid.
Menurutnya, hal terpenting yang harus dilakukan publik adalah membatasi volume asupan harian, bukan sekadar mengubah jenis pemanis.
"Sekarang kan suka ada tren ya, mengganti gula pasir menjadi gula aren.
Nah itu sebenarnya tidak ada bedanya," ujar dr Nadia dalam diskusi detikcom Leaders Forum, Jumat (5/6/2026).
Kemenkes menjelaskan bahwa kedua jenis pemanis tersebut memiliki dampak serupa bagi tubuh. Perbedaannya hanya terletak pada proses metabolisme di sistem pencernaan.
"Sama. Cuma memang metabolitnya lebih lambat.
>>> Ruben Onsu Absen dari Ulang Tahun Anak karena Masalah Komunikasi
Yang penting itu kurangi gula, bukan mengganti gula," lanjut dr Nadia.
Edukasi Nutri-Level dan Batasan Konsumsi
Pemerintah kini mendorong peningkatan kesadaran publik mengenai kandungan gula, garam, dan lemak melalui skema edukasi nutri-level.
Kebijakan ini mengarahkan masyarakat agar lebih cermat memahami kualitas gizi produk pangan lewat sistem penandaan warna khusus pada kemasan.
"Kalau hari ini minum merah, nanti sore atau malam jangan lagi. Cukup satu kali atau ya dua minggu sekali atau sebulan sekali," kata dr Nadia.
Langkah pengendalian asupan tersebut dinilai sangat krusial, terutama bagi individu dengan riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, atau obesitas.
>>> Prabowo Larang Telur Dadar Campur Tepung di Program Makan Bergizi Gratis
Berdasarkan data Kemenkes, penumpukan kadar gula akibat pola konsumsi tidak terkontrol menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya kasus penyakit tidak menular di Indonesia, seperti stroke, gangguan ginjal, jantung, hingga perlemakan hati.
Update Terbaru
5 Makanan yang Sebaiknya Dibatasi untuk Cegah Hipertensi, Gorengan Favorit RI
Sabtu / 06-06-2026, 14:08 WIB
Bengkel Spesialis Ungkap Tiga Komponen Kunci Dongkrak Performa Motor Listrik
Sabtu / 06-06-2026, 14:08 WIB
Dolar AS Tembus Rp 18.000, Netizen Bagikan 5 Kuliner dengan Harga Setara
Sabtu / 06-06-2026, 14:08 WIB
Taylor Swift dan Travis Kelce Dikabarkan Akan Nikah di New York
Sabtu / 06-06-2026, 14:08 WIB
Aktor Jin Ze Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun
Sabtu / 06-06-2026, 14:07 WIB
Kisah Syailendra Ahmad Terbang Sendiri dari Manado Demi Wujudkan Mimpi Jadi Escort Timnas
Sabtu / 06-06-2026, 14:07 WIB
155 Pilihan Nama Bayi Perempuan Lembut dan Berkelas Beserta Artinya
Sabtu / 06-06-2026, 14:04 WIB
XLSMART Raih Penghargaan Transparansi Emisi Karbon dan Perkuat Jaringan 5G
Sabtu / 06-06-2026, 14:04 WIB
BPI Danantara Bantah Kewajiban Pembelian Patriot Bond bagi Orang Kaya
Sabtu / 06-06-2026, 14:04 WIB
Jorge Martin Waspadai Pedro Acosta dan Marc Marquez di MotoGP Hungaria 2026
Sabtu / 06-06-2026, 14:03 WIB
Hilirisasi Nikel Indonesia Kejar Standar Keberlanjutan Pasar Global
Sabtu / 06-06-2026, 14:03 WIB
Pemerintah AS Sita 21 Anak dari Pasangan di Arcadia
Sabtu / 06-06-2026, 14:02 WIB
Timnas U19 Indonesia Targetkan Kemenangan Lawan Vietnam demi Semifinal
Sabtu / 06-06-2026, 13:58 WIB
Nastasya Shine Luncurkan Tinted Sunscreen SPF 50 untuk Kulit Glowing
Sabtu / 06-06-2026, 13:57 WIB






