Presiden Prabowo Subianto secara resmi melarang penyediaan menu telur dadar yang dicampur tepung dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Larangan itu disampaikan saat berpidato di Sentul International Convention Center pada Rabu (3/6) di hadapan mitra SPPG, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, kepala sekolah, serta guru.

>>> PT SMI Salurkan Pembiayaan Syariah Rp 950 Miliar ke Anak Usaha Indika Energy

"Telur jangan dibikin dadar. Kalau telur dadar nanti dicampur macem-macem itu.

Iya kan. Tepungnya lebih banyak dari telurnya," ujar Presiden Prabowo.

Presiden menegaskan pentingnya menyajikan makanan berkualitas tinggi yang tidak mengurangi esensi protein dari telur.

"Jadi telur itu harus utuh. Ceplok atau rebus.

Betul ya," lanjutnya.

Instruksi ini juga mencakup larangan terhadap hidangan telur orak-arik seperti scrambled egg dalam daftar menu MBG.

Tanggapan Medis

Pernyataan Presiden mendapat tanggapan dari dr. Dion Haryadi yang meluruskan informasi kandungan gizi pada berbagai metode memasak telur melalui unggahan di media sosial.

"Ketika dibandingkan dalam kondisi mentah dan setelah digoreng orak-arik, turun dikit omega-3nya," ujar dr. Dion.

Berdasarkan data ilmiah dari Belgia, penurunan kadar asam lemak omega-3 saat telur didadar atau diorak-arik hanya berkurang dari 15,3 persen menjadi 14,6 persen.

>>> Beasiswa LPDP 2026 Masih Buka Pendaftaran untuk S1 hingga S3

"Dan kalau direbus sampai 15 menit itu turun jadi 13,7%," lanjutnya.

Dokter Dion menerangkan bahwa memasak telur dengan cara direbus justru bisa meningkatkan omega-3 menjadi 16,9 persen, namun durasi memasak yang terlalu lama akan menurunkannya kembali.

"Hidup sehat itu udah susah. Jadi jangan tambah diribetkan dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berpengaruh banyak seperti ini," kata dr. Dion.