Pasar keuangan Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan besar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot sekitar 35% sepanjang tahun 2026, menjadikannya salah satu yang terburuk di dunia.

>>> Pemerintah Godok Skema Bagi Hasil Migas untuk Tambang

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Arus keluar dana asing pun deras terjadi, sementara pasar saham Thailand justru mencatatkan kenaikan signifikan.

Fenomena ini bukanlah kejadian mendadak.

Para pelaku pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti stabilitas kebijakan, kepastian regulasi, kredibilitas fiskal, dan independensi lembaga ekonomi.

Kekhawatiran atas Independensi Bank Indonesia

Salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar adalah pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Meski bertujuan memperkuat sektor keuangan, waktu pelaksanaan dan substansinya dinilai mengabaikan sensitivitas pasar.

Pasar khawatir dengan bertambahnya mandat Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Mandat yang terlalu luas berpotensi menciptakan konflik tujuan, terutama saat inflasi tinggi dan rupiah melemah.

Independensi bank sentral menjadi indikator utama bagi investor global.

>>> Jalan Kaki Efektif Kurangi Lemak Viseral Berbahaya

Jika ada potensi intervensi politik terhadap kebijakan moneter, premi risiko akan meningkat, yang berdampak pada pelemahan mata uang, kenaikan imbal hasil obligasi, dan penurunan valuasi saham.

Langkah Memulihkan Kepercayaan

Pemerintah perlu memberikan penegasan tegas bahwa independensi Bank Indonesia tetap terjaga. Stabilitas harga dan nilai tukar harus tetap menjadi mandat utama bank sentral.

Disiplin fiskal juga harus diperlihatkan secara nyata. Pasar membutuhkan kepastian bahwa program prioritas pemerintah dijalankan dalam koridor anggaran yang transparan.