BEI dan OJK Pastikan Fundamental Emiten Tetap Solid di Tengah Tekanan IHSG
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa fundamental perusahaan tercatat masih solid meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan.
Pernyataan ini disampaikan otoritas pasar modal dalam menyikapi volatilitas yang terjadi saat ini.
>>> Bayern Muenchen Incar Penyerang Muda Liverpool Rio Ngumoha
Pertumbuhan Laba Emiten LQ45 Capai 29,9%
Pelaksana Tugas (Pjs.
) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa emiten dalam indeks LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9% pada kuartal I/2026.
Ia menyebutkan bahwa sebanyak 80% dari total perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Menurut Jeffrey, persentase tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Atas dasar capaian fundamental yang sehat, BEI mendorong investor untuk tidak terjebak pada fluktuasi harga saham jangka pendek.
Jeffrey mengingatkan agar keputusan investasi didasarkan pada analisis fundamental yang rasional dan sesuai profil risiko masing-masing.
Langkah Stabilisasi dan Isu MSCI
Untuk meredam volatilitas, bursa terus memberlakukan instrumen stabilisasi pasar, termasuk izin pembelian kembali saham tanpa persetujuan RUPS dan penundaan transaksi short selling.
>>> KPK Ungkap Modus Baru: Beli Rumah Pakai Kepingan Emas
BEI juga membantah rumor di media sosial mengenai potensi penurunan status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Jeffrey menyatakan optimisme tinggi bahwa Indonesia akan tetap berada di kategori emerging market berdasarkan realisasi kerja yang telah dilakukan.
OJK: Likuiditas Terjaga, Kinerja Emiten Baik
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebutkan likuiditas transaksi saham di pasar domestik masih terjaga tinggi.
Rata-rata spread bid dan ask pada Mei 2026 stabil di level 1,5 persen.
Secara akumulatif, laporan keuangan tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan total laba emiten tumbuh di atas 21% secara tahunan.
OJK berharap data historis dan konsensus kinerja masa depan menjadi acuan utama investor dalam menyusun strategi investasi.
>>> Hakim PN Denpasar Vonis Bule Rusia 8,5 Bulan Penjara
Hasan menambahkan bahwa pertimbangan risiko dari berbagai faktor harus menjadi bagian dari keputusan rasional para pemodal ke depannya.
Update Terbaru
TOP 35 Acara TV dengan Rating Terpopuler Hari ini 22 Juli 2026 ada Asmara Gen Z Diposisi 7
Selasa / 21-07-2026, 17:00 WIB
Materi PAI Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2 Lengkap
Selasa / 21-07-2026, 16:39 WIB
Pemerintah Percepat Pembangunan 5.000 Jembatan Desa Hingga Akhir 2026
Selasa / 21-07-2026, 16:38 WIB
Istana Harap Menteri PU Perbaiki Cara Komunikasi
Selasa / 21-07-2026, 16:38 WIB
Quartararo Resmi Pindah ke Honda di MotoGP 2027
Selasa / 21-07-2026, 16:38 WIB
IHSG Ditutup Menguat 1,74 Persen ke Level 6.340
Selasa / 21-07-2026, 16:36 WIB
4 HP RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Performa Lancar untuk Multitasking
Selasa / 21-07-2026, 16:36 WIB
FIFA Selidiki Pemain Argentina Usai Kericuhan Final Piala Dunia 2026
Selasa / 21-07-2026, 16:35 WIB
LSF: Baru 46 Persen Anak Indonesia Tonton Film Sesuai Usia
Selasa / 21-07-2026, 16:35 WIB
KRAFTON India Rilis Roadmap Esports BGMI Paruh Kedua 2026
Selasa / 21-07-2026, 16:35 WIB







