Perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai potensi gencatan senjata masih berlanjut menjelang akhir pekan, saat konflik regional mendekati hari ke-100.

Ketegangan terus meningkat setelah bentrokan antara Hizbullah dan Israel di Lebanon selatan. Teheran bersikeras bahwa gencatan senjata di wilayah tersebut harus tercapai sebelum kesepakatan dengan Washington dapat disetujui.

>>> Saham BBCA dan BBRI Jadi Penekan Utama IHSG Selama Sepekan

Seorang penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan kepada CNN bahwa "bola ada di tangan Trump" sambil mendesak pencairan aset Iran senilai US$24 miliar.

Presiden Donald Trump menyebut adanya "kesuksesan besar dengan Iran" dan menambahkan bahwa Teheran tidak dalam posisi untuk memiliki senjata nuklir.

Namun, dalam wawancara dengan NBC News, ia mengakui Iran masih memiliki persediaan rudal yang cukup banyak.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan belum ada perkembangan signifikan dari komunikasi bilateral.

Komando Pusat AS melaporkan pasukannya menembak jatuh empat drone serang Iran yang menuju Selat Hormuz pada Jumat malam, lalu menyerang situs radar pengawasan pesisir Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.

Militer AS juga menyita sebuah kapal tanker minyak raksasa milik armada hantu Iran yang melanggar sanksi internasional pada hari yang sama.

Insiden ini terjadi setelah Iran menembakkan rudal dan drone ke Kuwait dan Bahrain awal pekan ini, menewaskan satu orang di bandara utama Kuwait.

>>> Indonesia dan Tiongkok Sepakat Bangun Ketahanan Bersama Hadapi Transformasi Global

Itu merupakan pelanggaran terburuk sejak gencatan senjata 8 April.

Konflik ini turut memicu penurunan harga minyak dunia hampir 3% pada Jumat, dengan minyak mentah AS diperdagangkan di atas US$90 per barel akibat penurunan konsumsi China.