Prospek saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN dinilai masih menarik oleh analis.

Sentimen positif ini ditopang oleh potensi lonjakan pasokan gas melalui proyek transmisi Cisem II dan peluang pembagian dividen yang tinggi.

>>> UIN Sunan Kalijaga Buka PMB Jalur Mandiri 2026 dan Prodi Kedokteran

Meski demikian, pergerakan pasar masih dibayangi sentimen eksternal. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, dan arah kebijakan suku bunga global menjadi faktor yang memengaruhi.

Bahana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGAS. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp2.300 per saham dari sebelumnya Rp2.500 per saham.

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana menilai prospek pertumbuhan PGAS masih menarik.

Hal ini didukung oleh peningkatan pasokan gas melalui proyek Cisem II serta potensi pembagian dividen yang tinggi.

"Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih tetap utuh," tulis Abdusshomad dalam risetnya.

Permintaan gas diperkirakan kembali normal saat harga minyak mentah mulai mereda pada 2027.

Operasional pipa transmisi Cisem II sejak April 2026 diyakini akan mendongkrak pasokan gas ke Jawa Barat.

Dari sisi pemegang saham, PGAS menawarkan dividend yield yang tinggi. Bahana memperkirakan rasio pembayaran dividen PGAS pada 2026 berkisar 80% hingga 95%.

Estimasi tersebut setara dengan potensi dividend yield sekitar 11%, dengan asumsi tidak ada pembentukan rugi penurunan nilai.

Bahana memproyeksikan volume distribusi gas PGAS pada 2026 mencapai 808 BBTUD. Angka ini lebih rendah 7% dibandingkan panduan perusahaan sebesar 877 BBTUD.

Penyesuaian ini mencerminkan perlambatan permintaan dari segmen non-HGBT yang sensitif harga. Industri keramik dan petrokimia juga bersikap hati-hati dalam mengelola konsumsi energi.