Transformasi digital di sektor manufaktur Indonesia kini menghadapi pergeseran tantangan besar. Fokus perusahaan tertuju pada cara mengubah data menjadi keputusan yang cepat, akurat, dan berdampak langsung pada operasional.

Kemampuan memperoleh visibilitas operasional secara real-time menjadi faktor pembeda utama. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal di pasar.

>>> BCA Siapkan Dividen Interim Rp2,46 Triliun untuk Kuartal I/2026

Vice President Epicor Asia Vincent Tang mengatakan, banyak perusahaan manufaktur saat ini telah memiliki data dalam jumlah besar.

Namun, mereka masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan dan memanfaatkannya secara efektif.

"Di lingkungan manufaktur modern, masalah terbesar bukan lagi kurangnya data.

Tantangannya adalah bagaimana perusahaan dapat melihat apa yang terjadi secara real-time dan mengambil tindakan sebelum gangguan berkembang," ujar Vincent.

Ketergantungan pada spreadsheet, laporan manual, papan tulis operasional, serta sistem terpisah memicu hambatan besar. Metode konvensional tersebut dinilai semakin sulit memenuhi tuntutan manufaktur modern.

Situasi ini memicu munculnya celah atau blind spot operasional di dalam pabrik.

Masalah seperti perlambatan mesin, gangguan kualitas, hingga kekurangan material sering kali baru terdeteksi setelah target pengiriman terancam gagal.

Dampak dari keterlambatan deteksi masalah ini dapat meluas pada berbagai aspek operasional. Perusahaan harus menghadapi risiko berupa peningkatan produk cacat, pembengkakan biaya pengerjaan ulang, hingga penurunan produktivitas.

>>> DPR Minta PT Taspen Permudah Pencairan Gaji ke-13 Pensiunan ASN

"Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui adanya gangguan, semakin besar dampaknya terhadap produktivitas, biaya operasional, dan kepuasan pelanggan," katanya.

Kondisi ini jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat mengancam stabilitas finansial perusahaan. Margin keuntungan dapat tergerus dan daya saing melemah di pasar yang kompetitif.