>>> Kurs Rupiah 5 Juni 2026 Menguat Terbatas ke Rp18.020

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet mengungkapkan bahwa kebijakan penutupan sementara untuk pemeliharaan ini mengancam kelangsungan pekerjaan mayoritas staf dan mitra kontraktor.

"Jelas sebuah tambang bekerja dengan banyak kontraktor.

Jadi jika Anda melihat jumlah orang yang kami pekerjakan untuk Weda Bay Nickel di akhir Desember, itu mendekati 18.000 orang, akhir 2025.

Tahap care and maintenance akan membuat jumlah orang kami harus menguranginya sebesar 65%," kata Jerome Baudelet.

Manajemen perusahaan menegaskan bahwa keputusan rasionalisasi staf bergantung penuh pada hasil permohonan kuota baru dari pemerintah. Sementara itu, produsen nikel lainnya, INCO, menyatakan kesiapan menghadapi pembukaan pengajuan revisi.

Presiden Direktur INCO Bernadus Irmanto mengatakan, "Udah siap, kita tinggal masukin. Ya pokoknya udah siap aja."

Perusahaan saat ini memilih memantau perkembangan regulasi resmi mengenai tata cara pengajuan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 2,14% pada triwulan I-2026.

Kontraksi ini kontras dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61%.

Penurunan ini berjalan beriringan dengan pemangkasan kuota batubara tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton dari realisasi 817,48 juta ton pada 2025.

>>> Daftar Harga Mobil LCGC Bekas Juni 2026, Mulai Rp 60 Jutaan

Kuota bijih nikel juga turun menjadi 260–270 juta ton dari target tahun lalu sebesar 320,37 juta ton.