Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan pekan ini dengan penguatan tipis.

Pada Jumat 5 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup di level Rp18.020 per dolar AS, menguat 0,07 persen.

>>> Daftar Harga Mobil LCGC Bekas Juni 2026, Mulai Rp 60 Jutaan

Penguatan ini membalikkan kondisi sesi pembukaan pagi hari saat rupiah sempat terdepresiasi 0,23 persen. Meski demikian, posisi di atas Rp18.000 menunjukkan tekanan yang masih cukup besar.

Di pasar global, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama merosot 0,16 persen ke 99,25, namun masih relatif tinggi.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent melandai ke US$94,77 per barel, masih di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.

Sentimen positif datang dari meredanya harga minyak dunia akibat ekspektasi perundingan AS-Iran. Hal ini meredam ketidakpastian dari ketegangan Israel-Lebanon.

Mayoritas mata uang Asia bergerak ke zona hijau pada sesi siang. Rupee India memimpin penguatan, diikuti peso Filipina, baht Thailand, yuan offshore, dan rupiah.

Sebaliknya, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Taiwan justru melemah pada penutupan sore.

Sepanjang pekan pertama Juni 2026, rupiah terdepresiasi 0,81 persen dan menjadi mata uang terlemah ketiga di Asia.

Sepanjang tahun ini, rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp17.057 per dolar AS, melampaui asumsi APBN Rp16.500.

>>> Kredit Bank BUMN Jadi Motor Pertumbuhan Perbankan Nasional April 2026

Namun pemerintah belum berencana merevisi anggaran.

Defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun atau 0,7 persen PDB, membengkak dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp20,9 triliun atau 0,09 persen PDB.

Aliran Modal Asing Keluar

Pelaku pasar mengantisipasi potensi pelemahan lanjutan rupiah.