"Kalau tingkat produksi dalam negeri meningkat, berarti kita juga akan mengurangi impor dan tidak terlalu terpengaruh terhadap fluktuasi mata uang," ujarnya.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi produksi minyak nasional per 31 Mei 2026 baru mencapai 576.200 barel per hari (bph), terdiri dari minyak 491.300 bph, kondensat 55.800 bph, dan NGL 29.100 bph.

Jumlah ini masih di bawah target APBN 2026 sebesar 610.000 bph.

Sementara itu, BPS mencatat nilai impor migas April 2026 mencapai US$4,60 miliar atau Rp82,99 triliun, akibat kenaikan impor minyak mentah 67,49 persen dan hasil minyak 87,76 persen.

Indonesia mendatangkan minyak mentah terbesar dari Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan, sedangkan produk hasil minyak dari Malaysia, Singapura, serta Mesir.

>>> John Herdman Panggil 23 Pemain Timnas Indonesia Hadapi Laga Juni 2026

Secara kumulatif, total nilai impor migas Indonesia Januari-April 2026 mencapai US$12,93 miliar atau Rp233,26 triliun, meningkat 17,58 persen dibanding periode sama tahun lalu.