Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggenjot produksi minyak domestik melalui teknologi migas nonkonvensional (MNK) untuk menekan impor.

Langkah ini diambil menyusul lonjakan impor migas sebesar 82,52 persen secara tahunan pada April 2026, yang diperparah pelemahan rupiah ke level Rp18.049 per dolar AS.

>>> Timnas Indonesia Incar Kemenangan Perdana Atas Oman Setelah 38 Tahun

Pemerintah memfokuskan implementasi teknologi baru pada wilayah kerja dengan potensi cadangan besar berdasarkan survei geologi.

Proyek percontohan awal akan dilakukan di Blok Rokan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menyatakan bahwa pihaknya berusaha meningkatkan produksi dalam negeri.

"Untuk blok-blok yang memiliki cadangan cukup berdasarkan identifikasi survei geologi, kami akan mendapatkan teknologi unconventional," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Penerapan metode ini merujuk pada keberhasilan Amerika Serikat yang mampu membalikkan tren penurunan produksi hingga menjadi surplus migas.

"Pengalaman dari Amerika, justru pada saat terjadi decline produksi mereka menerapkan produksi unconventional. Sehingga Amerika surplus untuk produksi migasnya sendiri dan meningkatkan ekspor," jelas Yuliot.

Integrasi Regulasi dan Target Produksi

Untuk mempercepat program, integrasi antara penyedia teknologi dan SKK Migas tengah difasilitasi. Targetnya, kerangka regulasi selesai pada akhir Juni 2026 dan dapat diimplementasikan awal Juli.

>>> Siapa Mantan Istri Hassan Alaydrus? Selebgram yang Kini Resmi Menikah dengan Audrey Jesslyn, Bukan dari Kalangan Orang Biasa?

"SKK Migas meminta kalau bisa akhir Juni kerangka regulasinya sudah selesai. Jadi ini kami sedang berkejaran dengan waktu," kata Yuliot.

Peningkatan kapasitas produksi nasional diproyeksikan memberi dampak positif ganda, baik bagi ketahanan energi maupun pengurangan defisit neraca perdagangan.