Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan bertemu dengan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) Global Ratings di Jakarta pada Rabu (3/6/2026).

Pertemuan ini membahas rumor potensi penurunan peringkat obligasi pemerintah Indonesia.

>>> Profil Audrey Jesslyn Selebgram yang Resmi Menikah dengan Hassan Alaydrus di KUA Tebet: Umur, Agama dan Akun IG

Pertemuan lanjutan ini digelar setelah komunikasi sebelumnya di Amerika Serikat. Isu penurunan peringkat investasi dari level BBB mencuat menjelang kedatangan S&P untuk memperbarui peringkat obligasi negara.

"Jadi saya pikir banyak rumor di dalam negeri, yang pasti ketika S&P datang ke sini, ada rumor S&P akan men-downgrade.

Padahal saya baru mau ketemu nanti malam," ujar Purbaya.

Optimisme terhadap Fiskal

Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan ini menyatakan keyakinannya terhadap kondisi fiskal Indonesia. Data APBN per 31 Mei 2026 menunjukkan perbaikan.

"Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7% dalam lima bulan. Di bulan Mei juga primary balance surplus lagi.

>>> 21 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman Tayang di Indosiar Malam Ini 5 Juni 2026

Lebih tinggi dibanding April dan pendapatan pajak lebih bagus lagi dibanding tahun lalu," ungkapnya.

Kondisi keuangan negara pada akhir April mencatat defisit Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB. Angka ini menyempit dari posisi Maret yang mencapai Rp240,1 triliun.

Keseimbangan primer April juga mencetak surplus Rp28 triliun dari defisit sebelumnya. Purbaya menegaskan bahwa isu kebijakan fiskal yang ugal-ugalan tidak benar.

"Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu. Kami makin bagus.

Nanti saya kasih tahu di APBN Kita. Saya kasih lihat gambar satu per satu seperti apa," terangnya.

>>> FIFA Terapkan Format Baru di Piala Dunia 2026 dengan 48 Tim

Menteri Keuangan juga menolak anggapan bahwa pengelolaan fiskal menjadi penyebab keluarnya modal asing dan depresiasi rupiah hingga Rp17.900 per dolar AS.