Peserta UTBK SNBT dengan skor tinggi ternyata belum tentu lolos seleksi. Panitia SNPMB tidak menggunakan nilai rata-rata dalam menentukan kelulusan.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof Dr Ir Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa UTBK memiliki tujuh subtes dengan penilaian masing-masing.

>>> Grab Kuasai Hak Suara Superbank Lewat Transaksi GXS Bank

Skor subtes tertentu akan menjadi pembobot utama sesuai program studi (prodi) pilihan.

"Sehingga sejatinya kita tidak punya nilai rata-rata.

Jadi, ketika ada yang beredar di medsos, 'Anak saya nilai skornya 700 sekian, 750, (tapi) teman 730 lulus', Kita tidak punya skor rata-rata, yang ada skor per subtes di mana skor per subtes ini akan ditentukan bobotnya berdasarkan prodi yang dipilih," kata Eduart dalam RDP Panja Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, Jumat (5/6/2026).

Ia mencontohkan, jika seorang peserta memiliki skor penalaran matematik lebih tinggi, maka bobot hasil UTBK untuk prodi yang mengedepankan penalaran matematik akan lebih besar.

Hal ini menjelaskan mengapa peserta dengan skor total lebih rendah bisa lolos sementara yang lebih tinggi gagal.

>>> Boneka Unta Jadi Oleh-Oleh Favorit Jemaah Haji Indonesia di Makkah

Pemisahan Skor Literasi untuk Keadilan Seleksi

Sertifikat UTBK SNBT 2026 menjabarkan skor setiap subtes secara rinci, termasuk tes potensi skolastik dan tes literasi.

Pada tahun ini, panitia memisahkan skor saintek dan soshum untuk literasi Bahasa Indonesia.

Langkah ini diambil untuk menjawab kekhawatiran masyarakat tentang keuntungan lebih bagi peserta saintek saat mendaftar ke prodi soshum.

"Terlihat untuk di sini Literasi dalam Bahasa Indonesia itu kita turunkan dalam dua nilai, saintek dan soshum.

Ini juga berdasarkan evaluasi tahun lalu," ujar Prof Eduart dalam konferensi pers Hasil SNBT, Senin (25/5/2026).

>>> Harga Emas Antam Naik Rp 11.000 per Gram pada Jumat 5 Juni 2026,  Buyback Ikut Menguat

"Itu tidak akan terjadi. Semua sudah kita antisipasi dan agar supaya proses seleksi ini fair," tegas Eduart.