Melalui dialog ini, orangtua dapat mengarahkan perhatian anak pada aspek-aspek positif yang lebih substansial.

>>> Timnas U19 Indonesia Kalahkan Timor Leste 3-0 di Piala AFF

Nilai-nilai seperti kerja keras, kedisiplinan, dan kreativitas sang idola harus lebih ditonjolkan ketimbang sekadar popularitas atau penampilan fisik.

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Vera menekankan pentingnya membantu anak membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada tren, barang, atau pengakuan dari luar.

Upaya ini dapat dilakukan dengan memberikan apresiasi yang konsisten terhadap proses belajar, kemampuan, perilaku positif, serta pencapaian nyata anak.

"Orangtua perlu membantu anak mengembangkan rasa percaya diri yang tidak bergantung pada barang yang dimiliki.

Fokuskan apresiasi pada usaha, kemampuan, sikap baik, dan pencapaian anak, bukan pada penampilan atau kepemilikan benda tertentu," ujar Vera.

Pola asuh ini akan mendidik anak bahwa nilai diri mereka tidak diukur dari tingkat kemiripan dengan idola.

Kepemilikan barang-barang yang berkaitan dengan figur publik tersebut juga bukan penentu harga diri mereka.

Melatih Berpikir Kritis dan Menjadi Teladan

Kemampuan berpikir kritis harus diasah sejak dini melalui diskusi interaktif mengenai konten yang anak-anak lihat di media sosial.

Orangtua perlu menanamkan pemahaman bahwa tidak seluruh tindakan idola layak untuk ditiru.

Langkah ini melatih anak untuk memilah inspirasi yang baik tanpa harus kehilangan kepribadian asli mereka.

Di samping memberikan arahan lisan, orangtua wajib mempraktikkan sikap bijak dalam merespons tren dan menggunakan media sosial di depan anak.

>>> Kemendikdasmen Salurkan PIP Termin Kedua hingga September 2026

Proses belajar anak terjadi secara visual dan berkelanjutan. Mereka tidak sekadar patuh pada instruksi verbal, melainkan meniru tindakan nyata yang ditunjukkan orangtua setiap hari.