Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie menegaskan bahwa sains modern, termasuk kecerdasan buatan (AI), lahir dari ilmu filsafat.

Pernyataan itu disampaikan Stella dalam unggahan di akun Instagram resminya, Rabu (6/5/2026). Ia mencontohkan AI yang berakar dari pertanyaan mendasar matematikawan Alan Turing: 'Can Machines Think?'

>>> John Herdman Ungkap Alasan Panggil Muhammad Ferarri ke Timnas Indonesia

Pertanyaan tersebut dipublikasikan Turing di jurnal 'Mind: A Quarterly Review of Psychology and Philosophy'. Stella menegaskan, 'AI lahir dari filsafat'.

Filsafat sebagai Induk Ilmu Pengetahuan

Stella juga membedakan sains dan non-sains dengan merujuk pada gagasan Karl Popper tentang prinsip falsifikasi. Menurutnya, teori sains harus bisa dibuktikan salah.

Ia mencontohkan teori relativitas Einstein yang memprediksi cahaya dibelokkan Matahari saat gerhana. Jika tidak terjadi, teori itu bisa dinyatakan salah.

>>> Pefindo Beri Peringkat idAAA dengan Prospek Stabil untuk PLN

Berbeda dengan astrologi yang selalu terasa benar.

Stella mengutip pemikiran Gödel bahwa akan selalu ada kebenaran yang tidak bisa dijangkau manusia. Hal ini memberi ruang bagi peneliti untuk terus menemukan hal baru.

Saat ini, AI mampu memproduksi pembuktian matematis lebih cepat daripada kemampuan manusia membacanya. Hal ini memunculkan pertanyaan baru tentang definisi pengetahuan.

>>> IHSG 5 Juni 2026 Diprediksi Melemah ke Rentang 5.395-5.412

Stella menyebut Fields Medalist Michael Freedman sedang meneliti pertanyaan tersebut secara matematis. 'Singkat kata, sains membutuhkan filsafat,' tegasnya.