Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan mengenai gencatan senjata telah memasuki tahapan akhir.

>>> Timnas U-19 Indonesia Tekuk Timor Leste, Jaga Peluang ke Semifinal Piala AFF

Pernyataan ini berbeda dengan menteri luar negeri Iran yang menyebut proses negosiasi sempat mengalami kebuntuan.

Ketegangan sempat meningkat saat Iran melepaskan kendali rudal dan drone ke wilayah Kuwait dan Bahrain yang menyebabkan satu korban jiwa di bandara utama Kuwait.

Aksi tersebut terjadi setelah pihak AS melakukan serangan terhadap kapal tanker minyak milik Iran.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan delapan orang tewas akibat serangan dari militer Israel.

Bersamaan dengan itu, militer Israel menyatakan adanya peluncuran roket dari pihak Hizbullah yang mengarah ke basis tentara mereka.

Meskipun konflik masih berjalan, harga minyak dunia melandai setelah sempat naik selama tiga hari berturut-turut.

Fokus para pedagang di Asia kini tertuju pada pergerakan mata uang regional setelah won Korea Selatan merosot ke posisi terlemahnya sejak 2009.

Tekanan terhadap mata uang Asia ini mendorong otoritas moneter di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina, untuk meningkatkan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar lokal mereka.

Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan resmi dari AS.

Data awal menunjukkan klaim tunjangan pengangguran baru meningkat, sementara sektor teknologi mencatatkan angka pemutusan hubungan kerja tertinggi dalam dua tahun terakhir.

"Perang yang terjadi antara AS dan Iran dan AI terus mendominasi narasi pasar, namun laporan ketenagakerjaan Jumat ini tetap sangat penting bagi pasar.

>>> Aksi Jual Asing Tekan Saham BBCA dan BBRI ke Level Terendah

Pasar tenaga kerja yang ‘terlalu ketat’ berisiko meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed lebih cepat dari yang diperkirakan," kata Tom Essaye dari Sevens Report.