Pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan mengalami penurunan tipis pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Pergerakan ini terjadi saat para pelaku pasar mengantisipasi koreksi pada saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) serta mencermati peluang penyelesaian diplomatik di Timur Tengah.

>>> Kevin Diks Siap Mentori Matthew Baker di Timnas Indonesia

Indikasi pelemahan terlihat pada pembukaan bursa di Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, indeks berjangka Hong Kong justru menunjukkan sinyal penguatan.

Kondisi ini menyusul penurunan indeks saham di Amerika Serikat setelah investor memindahkan dana dari sektor produsen chip ke industri lainnya.

Langkah tersebut berhasil mendorong Dow Jones Industrial Average mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, Indeks Nasdaq 100 terkoreksi 0,5% dan Indeks S&P 500 menguat 0,4%.

Harga minyak mentah AS terpantau stabil pada awal perdagangan di Asia setelah melemah pada sesi sebelumnya.

Penurunan harga minyak dipicu oleh spekulasi pasar mengenai tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran, menyusul adanya gencatan senjata bersyarat antara Israel dan Lebanon.

Sinyal positif ini tetap muncul meskipun kelompok Hizbullah menolak proposal gencatan senjata yang didukung oleh AS di Lebanon.

Lonjakan saham semikonduktor yang sempat terjadi akibat sentimen perang kini mulai tertahan. Kondisi tersebut dipicu oleh proyeksi penjualan chip AI dari raksasa teknologi Broadcom yang mengecewakan investor.

Situasi ini dimanfaatkan oleh sejumlah pelaku pasar untuk merealisasikan keuntungan dan mengalihkan portofolio ke sektor ekonomi yang dinilai lebih tangguh.

"Kenaikan dari level terendah Maret telah sangat kuat. Bahkan, pergerakannya parabolik, terutama untuk saham-saham chip," kata Matt Maley dari Miller Tabak.

"Oleh sebab itu, jika laporan laba Broadcom menjadi pemicu koreksi yang berlangsung lebih dari satu atau dua hari, hal itu sebenarnya akan sehat bagi pasar saham."