Investor asing gencar melakukan aksi jual bersih yang menekan saham perbankan berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia hingga menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026).

Dua saham blue chip yang mengalami tekanan paling berat adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

>>> Singapura Jadi Destinasi Wisata Favorit Wisatawan Indonesia

Data perdagangan Kamis (4/6/2026) menunjukkan saham BBCA anjlok 1,81 persen ke level Rp5.425, sementara saham BBRI merosot 3,1 persen menuju posisi Rp2.810.

Kemerosotan ini membuat saham BBCA ambles 32,82 persen dan saham BBRI terjun 23,22 persen sepanjang tahun berjalan 2026.

Pelemahan ini juga dibarengi dengan hengkangnya modal asing, di mana catatan net sell investor asing pada saham BBCA mencapai Rp31,34 triliun dan pada BBRI sebesar Rp9,57 triliun di sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data KSEI hingga akhir Mei 2026, kepemilikan asing pada BBCA menyusut 10,07 persen menjadi 36,91 miliar lembar saham, sedangkan pada BBRI turun 6,0 persen menjadi sekitar 41,6 miliar lembar saham dibandingkan akhir Desember 2025.

Kondisi serupa dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turut melemah, meskipun posisi harga keduanya masih lebih tinggi daripada lima tahun lalu.

Kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 serta depresiasi nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama kekhawatiran pelaku pasar luar negeri.

>>> IHSG Merosot ke 5.839, Investor Asing Jual Bersih Rp1,27 Triliun

"Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu offload investor asing," kata Nafan Aji Gusta, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas.