CEO Softbank, Masayoshi Son, meyakini bahwa robot humanoid dan kecerdasan buatan fisik akan menjadi ladang bagi perusahaan-perusahaan bernilai triliunan dolar di masa depan.

Popularitas robot humanoid yang dirancang menyerupai gerakan dan kemampuan manusia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

>>> AS Jatuhkan Sanksi terhadap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel

Kepala Riset Tematik FICC di Barclays, Zornitza Todorova, menilai dekade ini sebagai era perkembangan robot. Sektor ini berada dalam tren pertumbuhan yang sangat positif di pasar global.

"Robotika humanoid benar-benar berada dalam tren menanjak.

Ukuran pasar saat ini sekitar 2 hingga 3 miliar dolar, tapi kami melihatnya akan naik menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035," ujarnya.

Laporan Barclays mengungkapkan bahwa robot humanoid dirancang untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja struktural akibat penuaan populasi, urbanisasi, dan pergeseran preferensi pekerjaan.

Pekerjaan yang dianggap kotor, membosankan, dan berbahaya dinilai sangat tepat dialihkan ke mesin otomatis.

"Mereka sudah melakukan tugas sederhana seperti mengangkat kotak atau mengambil barang dari jalur perakitan. Masih banyak yang harus dilakukan dan teknologinya berkembang sangat cepat," tambah Todorova.

Ia memproyeksikan industri global baru berada di fase awal potensi penuh teknologi robot bipedal tersebut.

"Kita baru menyentuh permukaan dari apa yang bisa dilakukan robot humanoid. Seiring matangnya teknologi, kita akan melihat banyak aplikasi dalam peran yang lebih berorientasi pada layanan," lanjutnya.

>>> Timnas Irak Tahan Imbang Spanyol 1-1 di Laga Persahabatan

Dua Gelombang Pengerahan Robot

Analisis Barclays membagi implementasi robot humanoid ke dalam dua fase. Tahap pertama berlangsung hingga 2030 dengan fokus pada manufaktur, logistik, pertanian, dan konstruksi.