Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menghadapi tekanan besar pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Mata uang garuda diperkirakan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, rupiah ditutup merosot 82 poin ke level Rp 18.049. Posisi itu turun dari penutupan sebelumnya di Rp 17.966.

>>> Harga Emas Antam Melemah ke Level Rp2,759 Juta per Gram

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah juga langsung melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp 18.003 per dolar AS.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi pergerakan kurs rupiah untuk esok hari.

Menurutnya, rupiah diprediksi berfluktuasi dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp 18.050 hingga Rp 18.120.

Tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan internal. Dari eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah menjadi pemicu utama.

>>> Tiga Pemain Real Sociedad Akhiri Musim Usai Laga Spanyol vs Irak

Serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta balasan AS ke Pulau Qeshm memperburuk situasi. Selain itu, perluasan operasi militer Israel di Lebanon selatan turut menambah ketidakpastian pasar.

Pasar juga menanti data ketenagakerjaan AS, terutama laporan penggajian non-pertanian yang akan dirilis Jumat.

Data ADP sebelumnya menunjukkan penambahan 122.000 pekerjaan oleh perusahaan swasta AS pada Mei 2026.

Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.

>>> Prancis Hadapi Pantai Gading dalam Laga Persahabatan di Nantes

Selain itu, prospek negatif peringkat Danantara Investment Management di level Baa2 oleh Moody’s Ratings turut membebani rupiah.