Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp 18.049 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.

Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar atas meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di Timur Tengah.

>>> Pembatasan PPh Final 0,5% Berpotensi Dongkrak Penerimaan Pajak

Mata uang Garuda tersebut merosot sebesar 82 poin, setelah sebelumnya ditutup di level Rp 17.966 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan pagi hari, rupiah sudah menunjukkan tren negatif dengan melemah 37 poin ke posisi Rp 18.003 per dolar AS.

Faktor Eksternal dan Domestik

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan ini dipengaruhi oleh sikap kehati-hatian pelaku pasar.

Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta respons militer AS ke Pulau Qeshm, turut memicu sentimen negatif.

>>> Prancis Jamu Pantai Gading dalam Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026

Perhatian pasar kini beralih ke data ekonomi AS, terutama laporan penggajian non-pertanian yang akan dirilis pada Jumat mendatang.

Data dari ADP menunjukkan sektor swasta AS menambah 122.000 pekerjaan pada Mei 2026, melampaui ekspektasi.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh lonjakan harga minyak mentah yang meningkatkan risiko defisit fiskal Indonesia mendekati 3 persen.

>>> Lima Catatan Penghargaan dan Penyelenggaraan Haji 2026

Selain itu, lembaga pemeringkat Moody’s memberikan koreksi outlook negatif terhadap Danantara Investment Management.