Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Mata uang Garuda dilaporkan sempat menembus level Rp17.900 per dolar AS dalam transaksi di pasar valuta asing, memperpanjang tren penurunan yang terjadi belakangan ini.

>>> Maja Chwalińska Tembus Final Roland Garros dan Raih Sponsor Baru

Faktor Global dan Domestik Picu Pelemahan

Kombinasi faktor negatif dari ranah global dan situasi domestik menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar rupiah.

Aset negara berkembang kini dihindari investor akibat meningkatnya sikap kehati-hatian, ditambah ketidakpastian ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga AS yang mendorong penguatan dolar.

Di dalam negeri, pelaku pasar menyoroti sejumlah tantangan ekonomi, seperti dinamika neraca perdagangan, tekanan arus modal asing, dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.

>>> IHSG Ambles 3,48 Persen ke Level Terendah Sepanjang 2026

Pelemahan hingga melampaui Rp17.900 per dolar AS ini memicu kekhawatiran serius bagi investor, pelaku usaha, dan pemerintah.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas daya beli masyarakat, memicu inflasi, serta menaikkan biaya impor dan harga bahan baku industri.

>>> Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia yang Terapkan Kartu Skor Keberhasilan Pemda

Pelaku pasar kini terus memantau kebijakan dan langkah konkret pemerintah bersama Bank Indonesia untuk mengendalikan volatilitas pasar keuangan dan menjaga stabilitas nilai tukar.