Harga Emas Naik 4 Juni 2026 Dipicu Harapan Gencatan Senjata Timur Tengah
Harga emas dunia melonjak pada perdagangan 4 Juni 2026. Kenaikan ini dipicu oleh harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 1,7% ke US$ 4.506,19 per ons.
>>> Pemerintah Usul Subsidi dan Kompensasi Listrik Rp274 Triliun di RAPBN 2027
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga menguat 1,5% menjadi US$ 4.533,60.
Pelemahan dolar AS membuat emas batangan lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Pemerintahan Trump mengumumkan Israel dan Lebanon menyetujui gencatan senjata.
Langkah diplomasi ini diperkuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS yang menyetujui resolusi membatasi tindakan militer terhadap Iran.
Keberhasilan diplomasi diproyeksikan memulihkan jalur distribusi minyak mentah dan meredakan tekanan inflasi global.
"Keberhasilan diplomasi akan memungkinkan aliran minyak mentah kembali normal dan meredakan kekhawatiran inflasi.
Mendinginnya kekhawatiran geopolitik dan harga minyak yang lebih rendah menekan dolar AS, membantu emas batangan memperpanjang pemulihan," kata Nikos Tzabouras, analis pasar senior di Tradu.
com milik Jefferies.
>>> Saham Chip Anjlok, Wall Street Tertekan di Awal Perdagangan
Penurunan harga minyak mentah terjadi segera setelah pengumuman gencatan senjata. Sejak eskalasi konflik Iran pada akhir Februari, harga emas telah merosot sekitar 16% akibat lonjakan harga minyak.
Harga minyak tinggi berisiko memicu inflasi, yang biasanya mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.
Meski emas sering digunakan sebagai lindung nilai inflasi, suku bunga tinggi menekan komoditas ini karena tidak menghasilkan imbal hasil.
Prospek Jangka Pendek dan Permintaan Global
Lembaga konsultan Metals Focus memprediksi potensi rebound tajam harga emas pada paruh kedua 2026.
Namun, total permintaan emas global diperkirakan menyusut 2% sepanjang 2026 akibat penurunan di sektor perhiasan dan pembelian bank sentral.
"Prospek jangka pendek untuk emas tetap menantang, dan logam mulia ini dapat semakin terpuruk.
Kombinasi risiko geopolitik yang masih ada dan suku bunga lebih tinggi dalam jangka panjang menguntungkan dolar AS, menjadi hambatan kuat bagi emas," kata Tzabouras.
>>> 5 Aplikasi untuk Menghasilkan Uang dari Internet
Pelaku pasar kini fokus pada rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls AS periode Mei untuk memetakan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Update Terbaru
Turkiye Rancang Jalur Kereta Baru Antisipasi Krisis Selat Hormuz
Jumat / 05-06-2026, 00:01 WIB
Jason Momoa Modifikasi Bentley Blower Jnr dengan Sentuhan Kustom Ekstrem
Jumat / 05-06-2026, 00:00 WIB
IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam Enam Tahun Terakhir
Jumat / 05-06-2026, 00:00 WIB
Slovenia Ungguli Rekor Pertemuan Jelang Lawan Siprus di Ljubljana
Jumat / 05-06-2026, 00:00 WIB
Swedia Jamu Yunani di Laga Uji Coba Terakhir Jelang Piala Dunia 2026
Kamis / 04-06-2026, 23:56 WIB
Slovenia Jamu Siprus dalam Laga Persahabatan di Ljubljana
Kamis / 04-06-2026, 23:56 WIB
Janice Tjen dan Talia Gibson Melaju ke Perempat Final Birmingham Classic 2026
Kamis / 04-06-2026, 23:52 WIB
Pemko Payakumbuh Paparkan Kesiapan Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat
Kamis / 04-06-2026, 23:52 WIB
IESPA Gelar Musyawarah Nasional 2026 untuk Perkuat Ekosistem Esports
Kamis / 04-06-2026, 23:51 WIB
KPK Tetapkan Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Korupsi Izin Tinggal
Kamis / 04-06-2026, 23:47 WIB
Slovenia Jamu Siprus di Stadion Stozice Jelang UEFA Nations League
Kamis / 04-06-2026, 23:46 WIB
Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah Lima Tahun, Sentuh Rp 5.400
Kamis / 04-06-2026, 23:42 WIB
Swedia Uji Coba Terakhir Lawan Yunani Sebelum Piala Dunia 2026
Kamis / 04-06-2026, 23:41 WIB
Mendag Budi Santoso Sahkan Regulasi Baru Perdagangan Digital
Kamis / 04-06-2026, 23:41 WIB






