Pertandingan semifinal tunggal putri French Open 2026 antara petenis Ukraina Marta Kostyuk dan petenis Rusia Mirra Andreeva pada Kamis (4/6) dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di antara kedua negara mereka.

Babak semifinal turnamen Roland Garros tahun ini dipastikan berlangsung tanpa jabat tangan tradisional di net setelah pertandingan selesai.

>>> Ketidakpastian Global Dorong Perusahaan Perkuat Mitigasi Risiko

Kebijakan tersebut tetap dipegang teguh oleh para atlet Ukraina sejak invasi skala penuh Rusia dimulai empat tahun lalu.

Kostyuk, yang diunggulkan di posisi ke-15, mendedikasikan setiap kemenangannya di Paris untuk negaranya setelah sebuah rudal dilaporkan menghantam bangunan yang berjarak hanya 100 meter dari rumah keluarganya di Kyiv baru-baru ini.

"The biggest thing I can do is sit here and talk about [the war] so more people can find out about it and don't get used to this terrible life," kata Marta Kostyuk.

Petenis berusia 23 tahun tersebut juga melayangkan kritik keras kepada para pemain Rusia yang memilih untuk tetap bungkam dan tidak bersuara mengenai situasi perang.

"They are all grown-ups. They know what they're talking about.

They know what's going on. They have phones.

They have Instagram. They have news.

They are clearly aware of what's going on," ujar Marta Kostyuk.

Kostyuk merasa heran dengan sikap abai yang ditunjukkan oleh rekan-rekan seprofesinya dari negara tetangga tersebut.

"I don't know how you can sleep at night peacefully when you know that this is going on and you have nothing to say about it," tutur Marta Kostyuk.

Di sisi lain, Mirra Andreeva yang menjadi unggulan kedelapan mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai konflik politik dan memilih fokus sepenuhnya pada taktik di atas lapangan tanah liat.