Meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, disrupsi energi, dan gangguan rantai pasok mendorong dunia usaha memperkuat strategi mitigasi risiko.

Kondisi ini menciptakan tantangan yang semakin kompleks bagi berbagai sektor industri, termasuk perasuransian.

>>> Amran Tanggapi Kritik Film Pesta Babi soal Proyek Merauke

Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, mengatakan industri saat ini tidak hanya membutuhkan ketahanan finansial, tetapi juga kemampuan adaptasi yang lebih kuat.

"Inflasi berdampak pada peningkatan biaya klaim dan operasional, disrupsi energi memengaruhi keberlangsungan aktivitas bisnis. Sementara gangguan supply chain menghambat distribusi dan menurunkan kualitas layanan.

Maka, pendekatan pengelolaan risiko konvensional sudah tidak lagi memadai," ujar Beatrix dalam keterangannya, Rabu (3/6).

Geopolitik Sumber Utama Ketidakpastian

Managing Director Chief Economist BPI Danantara, Reza Yamora Siregar, menambahkan bahwa ketidakpastian global saat ini telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.

>>> Prabowo Kunjungi Wisma Danantara, Bahas Teknologi dan Robotik

"Kita memasuki fase di mana geopolitik menjadi sumber utama ketidakpastian ekonomi dunia.

Konflik Rusia-Ukraina, eskalasi di Timur Tengah, hingga ketegangan perdagangan global telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar keuangan, harga energi, dan stabilitas ekonomi global," ujarnya.

Pakar Manajemen Risiko dan Transformasi Berkelanjutan, Sakri Widyo Saroyo, menilai berbagai risiko saat ini semakin saling terhubung.

"Risiko saat ini tidak lagi berdiri sendiri.

>>> GPOS Lite Dorong Digitalisasi Operasional Ribuan Apotek Modern

Geopolitik, inflasi, supply chain, teknologi, hingga perubahan regulasi saling terhubung dan membentuk landskap risiko yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya," kata Sakri.